Hanya sedikit meluruskan tanpa sedikitpun terbesit niat untuk menggurui. Karena memang terlalu naif jika membiarkan anggapan yang salah kaprah seperti ini menjadi semakin berlarut-larut. Banyak diantara mereka, kita, atau bahkan aku sendiri, sering menelan mentah-mentah definisi setiap kalimat yang pernah dilihat, dibaca, maupun didengar. Tanpa adanya pengkajian ulang apakah daya sensor penerimaan dan pemahaman otak kita sudah benar. Seperti judul tulisan ini misalnya, ANTI KEMAPANAN. Aku sering mendengar kalimat ini muncul dari ucapan orang-orang di lingkungan sekitarku sendiri, yang aku rasa teman-teman di setiap kota dan daerah masing-masing pun juga kerap mendengarnya. Lalu apa masalahnya? Begini, jika kita sedang membicarakan tentang 'Anti Kemapanan' maka tak dapat jauhlah kita dengan 'PUNK'. Sangat sering kujumpai ketika seseorang mendeklarasikan dirinya sebagai Punk lalu dengan cepat dan sigap diambil-lah unsur-unsur kalimat Anti Kemapanan yang akan senantiasa di junjung tinggi di kedua pundaknya. Sampai disini tidak ada masalah. Itu memang benar. Dan memang sepatutnya sikap itu diambil sebagai seseorang yang mengambil 'jalan hidup' ini. Masalahnya adalah ada beberapa (atau mungkin masih banyak) yang belum cukup sempurna untuk menafsirkan esensi dari dua kata ini: 'ANTI KEMAPANAN'.
Banyak yang beranggapan bahwa Anti Kemapanan adalah gaya hidup yang benar-benar anti mapan, benar-benar anti dengan segala kenyamanan dan kenikmatan yang -kebetulan- sudah diberikan oleh Tuhan masing-masing, benar-benar HARUS SUSAH, tidak boleh sedikitpun ada rasa nyaman maupun mapan didalamnya, harus nggelandang, pakaian dan dandanan harus selalu compang-camping, rambut acak-acakan, bila perlu jangan mandi sekalian. POKOKNYA TIDAK BOLEH MAPAN! Namanya juga Anti Kemapanan. Begitu? Aduh, mengerikan sekali. Dalam kesehariannya, kebetulan aku disini juga sebagai 'pelaku', yang juga sangat sering diterpa serangan peluru panas secara langsung, sering mendengar kata-kata tersebut meluncur lunak menuju kedua telinga. Walaupun terkadang juga terasa agak sedikit panas. Contohnya begini, kalau yang ini agak sedikit curhat: Waktu itu aku sedang makan siang di warung langganan tepat disamping Pabrik tempatku bekerja. Entah kenapa rasanya nafsu makan sedang bagus-bagusnya, segera aku memesan makanan dengan menu yang agak bagusan dari biasanya. Bukan berniat sombong, tapi memang kebetulan waktu itu masih tanggal muda. Masih terbuai masa-masa 'aman'. Tidak lama kemudian, datang seorang teman yang menekan pelatuk tepat disebelah kuping dengan berkata demikian; "Jare punk kok mangan enak? Anti kemapanan'e nangdi bos!" (Katanya punk kok makan enak? Anti kemapanannya mana!). Baiklah, mau dijawab ditempat pun juga percuma. Disamping membuang sia-sia jam istirahat makan siang, juga tidak baik bagi perkembangan nafsu makan. Itu hanya sebagian cerita dari sepotong contoh kecil, masih banyak contoh-contoh kejadian lainnya, yang pada intinya masih pada permasalahan yang sama. Tidak menarik kalau kutulis lengkap dan detailnya disini. Karena aku paham, tulisan ini bukan semacam buka diary atau kolom tempat pengaduan masalah.
Menurutku -yang kuserap dan kubanding-bandingkan dari beberapa bahan, literatur, nara sumber, pelaku, maupun pengalaman pribadi-, definisi dan esensi dari Anti Kemapanan bukanlah sesempit itu, tidak sedangkal demikian. Anti Kemapanan selalu mempunyai tafsiran tersendiri atau bahkan berbeda-beda dalam setiap ruang lingkup, tujuan, jaman dan masanya. Tergantung seperti apa kondisi dan situasi gejolak sosial, ekonomi, politik di masa/wilayah itu. Misalnya seperti Punk movement di Inggris, Amerika, atau belahan bumi lainnya. Atau juga seperti Punk pada era pertama, dilanjut pada gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang dimaksud 'berbeda' disini ialah berbeda pada sisi penerapan maupun tujuannya, TAPI masih pada garis besar yang sama. Untuk contoh-contoh serta gambaran konkretnya silahkan di-googling sendiri. Atau silahkan langsung menuju Halaman yang agak sedikit bisa dipercaya, Wikipedia. Sudah dibahas lengkap. Tak perlu lagi aku tulis ulang disini.
Kalau boleh kutarik berdasar atas kondisi sosial, ekonomi, dan politik di tempat dimana aku tinggal sekarang, dan menurut versiku sendiri; Anti Kemapanan adalah suatu sikap untuk MELAWAN keadaan dimana kita sudah merasa mapan dan nyaman didalam suatu kondisi yang sudah tercipta (tidak sengaja) atau diciptakan (sudah direncanakan). Kenapa harus dilawan? Sederhana saja, Manusia tidak akan melakukan -atau hanya sekedar merencanakan- suatu perubahan jika keadaan dan kondisi yang didapat sekarang sudah membuatnya merasa mapan dan nyaman. Buat apa masih susah-susah harus 'mempersibuk' diri kalau apa yang dinginkan sudah tercapai? Benar tidak? Masalahnya adalah, yang mapan siapa? Siapa yang nyaman? Siapa? Dirinya sendiri? Oh ya PASTI. Sebagai Manusia, atau sebagai Makhluk Sosial lebih tepatnya, berbahaya sekali jika kita sampai memasuki Lingkaran Kemapanan ini. Lambat laun akan terbentuk suatu pola hidup yang mengajari dan membiasakan kita untuk mengisi segala sesuatunya dengan 'main aman' asal mapan. Kenapa tidak di artikan saja sekalian bahwa: Ketika manusia sudah mapan, maka berakhirlah juga masa hidupnya. Membosankan sekali!
Ini sangat bertentangan sekali dengan teori-teori yang selama ini sudah kurebus di dapurku sendiri. Menjadi mapan bukan berarti menjadi pasif! Ber-Anti Kemapanan-lah dengan baik dan benar menggunakan pola pikir yang lebih terbuka. Terkadang, sepenggal kalimat kuno ini memang terasa benar sekali, "Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah di dapat, jangan pernah merasa cukup". Arti 'jangan pernah puas' disini BUKAN berarti SERAKAH, melainkan; Teruslah melakukan apa yang belum pernah dilakukan, teruslah belajar untuk hal-hal baru yang belum diketahui, teruslah mengejar untuk apa yang belum sempat diraih, teruslah mencari untuk apa yang belum sempat dimiliki -jika memang sudah terpenuhi, bantulah sekitar dengan memberi-, teruslah melawan untuk apa yang patut dilawan, teruslah bertanya untuk apa yang patut dipertanyakan, teruslah, teruslah, teruslah, gali, gali, dan gali. Salah seorang Tokoh idola saya pernah bilang dalam suatu kesempatan: "REVOLUSIMU BELUM SELESAI!" ----- Sepenggal kalimat tersebut sungguh membakar sekali rasanya. Ya! JANGAN PERNAH MERASA MAPAN! Begitulah seharusnya 'Punk' beserta 'Anti Kemapanan'-nya. Buang jauh-jauh asumsi publik bahwa "PUNK harus = SUSAH".
Salam sama rata.
(AS)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar