3 Jul 2014

DIALOGKU DENGAN PAK SUWONDO

Share on :

Written and contributed by Wahyu Kusuma Jati

Yak, mungkin tulisan kali ini akan bercerita tentang obrolanku bersama seorang kakek tua. Oke, akan ku perkenalkan kakek itu. Dia bernama Suwondo, kakek tua yang berumur sekitar 80 tahunan. Tinggal di suatu perumahan yang bisa dibilang cukup mewah. Tapi jangan kalian pikir kakek ini adalah seorang kakek yang tua, lemah, dan cuma duduk-duduk saja menikmati masa tua, tidak! Beliau masih segar bugar seperti baru berumur 40-50an! Gilaaaa.

Oiya, aku dikenalkan oleh seorang teman, beliau bernama Paiman, yang belum lama juga ku kenal. Jangan kira beliau seumuranku, tidak. Beliau juga termasuk lansia, kakek berumur 65-an lah

Oke, akan kumulai ceritaku. 
Sekitar kemarin malam aku memberanikan diriku berkunjung ke rumah beliau, tentunya bersama Pakde Paiman (sapaanku kepadanya). Dengan hanya bermodal nekat dan sebungkus rokok, aku menuju ke rumah beliau. Kulihat dari kejauhan nampak rumah yang lumayan megah. Seeeeer, jadi agak ragu aku melihat rumah itu. Apa aku akan diterima? Apa aku diperbolehkan masuk? Nanti diusir nggak ya? Ahh tapi apa boleh buat, dengan kenekatan dan segala gejolak di batin ini, aku beranikan kesana.

Pertama Pakde Paimin memencet bel "tingtongtingtong", keluarlah wanita muda nan cantik, huahahaha. Dia menyapa "Eh, Pak Paimin tumben malem-malem kesini, ada apa? Loh, sama siapa pak?" Tanpa ba bi bu Pak Paimin menjawab, "Iya mbak, ini mau nganter mas (namasaya), pengen ketemu sama Bapak". Dan berkenalan lah aku dengan wanita itu. Hahahaha, sudah sudah, soal perkenalan dengan wanita tadi, sekarang saya sudah bbm'an sama dia. Huwahahahahha. Yak, lanjuuuut! Kami pun masuk, kulihat lelaki tua duduk sembari melihat ikan-ikannya. Kami dipersilahkan duduk. “Sial, ramah sekali keluarga ini”, pikirku. Pakde Paimin membuka obrolan, "Ini Pak, ada yang pengen ketemu sama Bapak". Tanpa basa-basi aku perkenalkan diriku, blablabla.

"Ada perlu apa, Dik?" Serrrr, aku blaaank, semua pertanyaan tiba-tiba lenyap bak tanggal tua :))) “Nggg, anu Pak, saya mau tanya tentang peristiwa G30s/PKI" (pertanyaan itu ku ucapkan dengan ragu-ragu dan agak takut tentunya). Dengan sedikit senyum beliau menjawab, “Pengen tau apa? Bukankah kamu sudah tau dari film yang diputar setiap 30 september? Mau tau apa lagi?”. “Ya Pak, saya pengen tau peristiwa itu langsung dari Bapak . Katanya Bapak juga sempet terlibat”. Menurut cerita Pakde Paimin, Bapak Suwondo juga ikut serta dalam peristiwa itu. “Hahahhaha, kamu ngomong apa min sama anak ini”, sentil Pak Suwondo. “Saya ngomong banyak Pak, dia bukan anak muda biasa, dia bisa dipercaya. Dia sedang belajar apa itu Sosialisme, Pak. Apa itu ke-sama rasa sama rata-an", balas Pakde Paimin. "Sial, ngomong apa Pakde Paimin, kenapa dia berani ngomong gitu", batinku. “Oke, Nak, apakah kau benar-benar bisa dipercaya? Apa kau belum cukup yakin dengan film itu?”, Pak suwondo bertanya padaku. “Bisa Pak! Aku belum cukup yakin dan tidak yakin sebelum aku tau cerita sebenarnya dari ‘korban’ kebengisan itu". "Yasudah nak, mau mulai dari mana? Dari teman-temanku dibantai rezim Soeharto? Apa dari kami difitnah sebagai penganut aliran sesat?”. “Terserah Bapak, dari manapun saya akan mendengarkan”. “Oke, akan mulai kujelaskan”. Tiba-tiba beliau memangil sebuah nama, datanglah seorang wanita tua, kemudian Pak Suwondo menyuruhnya untuk membuat kopi dan menawariku, "Kamu minum apa, le? Biar dibuatkan sekalian". Aku jawab, "Kopi hitam, Pak. Tapi gulanya sedikit saja, jangan banyak-banyak". “Edyaan kamu masih muda sukanya kopi pait”, lalu ku keluarkan rokokku, beliau malah menyeletuk , “Wah apa itu rokok buatan londo? Iki loh rokok tenan",  dikeluarkanlah rokok kretek bermerk ‘234’. Saat itu aku membawa rokok Marlboro,  hehehehehe.

Mulailah beliau bercerita...
“Jadi gini nak, sesungguhnya apa yang dulu kamu tonton setiap tanggal 30 itu salah besar! Kami tidak berniat menghianati Bangsa ini, kami ingin negara ini hidup tentram, PKI bukan penganut aliran sesat. Kalau kami beraliran sesat, kenapa kami cantumkan Ketuhanan di asas kami? Kami dari golongan kecil, kami perjuangkan rakyat kecil. Tapi semua itu diputar balikan oleh Soeharto, Nak . Kenapa bisa begitu? Ya karena politik, Nak. Soeharto tau PKI itu Partai yang besar, massa kami banyak. Soeharto memutar balikan fakta. Kami di cap biang kerusuhan, tidak taat peraturan, padahal kami tidak begitu. Itu cuma akal-akalan Soeharto biar kami terpecah belah, biar kami hilang. Komunis kami bukan komunis seperti manusia berkumis tengah itu. Kami mengutamakan rakyat kecil dan Sosialisme, Nak! Kami tidak pernah berniat menghianati Bangsa ini. Dahulu ketika peristiwa itu pecah, negara ini layaknya lautan darah . Perang saudara dimana-mana. Kami saling bunuh. Siapa yg dicap PKI, dibantai layaknya hewan. Seharusnya kamu tau nak itu ulah siapa. Siapa dibalik semua itu. Apa daya kami tak bisa melawan. Mereka terlanjur benci dengan kami. Sebenarnya apa salah kami? Sampai sekarang aku pun masih bingung sebenarnya apa salah kami. PKI bukan  penghianat Bangsa ini. Oiya nak, terus apa yang akan kamu lakukan setelah aku bercerita seperti ini?". "Aku akan menulisnya, Pak. Akan ku sebarkan kepada teman-temanku biar mereka tau, Pak. Aku ingin sedikit banyak meluruskan apa yang rezim Orba bengkokkan. Itu saja”, ujarku. “Aduh, tapi tolong jangan pernah beritahu siapapun dimana aku tinggal, Nak. Aku sudah bosan dikucilkan, dicaci orang, dijauhi, aku ingin dianggap manusia juga!”, sentak Pak Suwondo.

Oiya teman,  saat itu waktu sudah hampir jam 11. Sebagai tamu, aku harus lekas segera berpamitan pulang.

"Pak, sepertinya cerita ini harus dipotong dulu, waktu sudah terlalu larut malam", ceplosku. "Ohh, iya nak. Baiknya kita lanjutkan  kapan-kapan saja. Aku mulai tau tujuanmu kesini. Kalau masih ada, akan kucari dan kuberikan buku-buku lamaku untuk kau pelajari, Nak. Kalau ada waktu datanglah lagi kesini, mari bicara denganku!", ujarnya.

Lalu aku pulang dan sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan padanya. Tapi waktulah yang tidak tepat. Tak apalah, setidaknya aku sudah bertukar Pin BB dengan cucunya. Hahahahahahah. Maaf tulisannya amburadul. Malam itu aku sedang sakit, jadi kurang konsentrasi :D 

Bersambung... 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar