17 Agu 2014

EDISI SPESIAL DONOZONK - KHOTBAH TUJUH BELASAN


Written and contributed by Donozonk

Dirgahayu Republik Indonesia Ke 69 Tahun.
Ya, hari ini tepat 69 tahun lalu Indonesia merdeka. Merdeka dari penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Bahkan mungkin Portugis juga? Maaf kalau sedikit selintutan gaess. Maklum, efek sebotol ciu khas Solo membuatku sedikit gugup malam ini. Hahahahahahaha. Oke, lanjut! Setiap tanggal 17 Agustus warga negara Indonesia memperingati yang namanya Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Ya iyalah gaess, kalau Hari Pahlawan 10 November. Plak! -Sorry banyak nyamuk jadi gak konsen lagi-. Bukannya aku nggak 'NASIONALIS' atau gampangannya cinta negaraku sih. Tapi menurutku Indonesia masih belum merdeka! Lho? Kok bisa mas Donozonk? Oke oke, beginilah pendapat dan analisa saya -wooooooosss bergaya ala profesor vijay-

Memang Indonesia 69 tahun lalu dinyatakan merdeka dari penindasan dan penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Kemerdekaan inipun disampaikan langsung oleh presiden RI pertama Ir. Soekarno bersama wakilnya Drs. Mohammad Hatta (mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan nama dan gelar). 

*Bentar men aku mau nyalain rokok kretek sisa habis makan tadi*  

Nah, menurutku memang sih Indonesia sudah bebas dari jaman kelam seperti itu. Buktinya kita sekarang bisa happy kemana-mana mau ngapain aja. Tanpa harus takut serangan udara dari pasukan penjajah. Iya kan? Hahahahahaha. Tapi ternyata bila kita lihat dan renungkan lebih jauh, Indonesia masih terintervensi pihak yang masih menginginkan kekayaan SDA dan SDM negara ini. Entah itu dari pihak asing maupun dalam negeri. Contohnya, Indonesia merupakan negara penghasil beras karena negara Indonesia negara agraris. Dimana sekian persen penduduknya bekerja sebagai petani dan penggarap lahan. Namun mengapa Indonesia belum juga swasembada pangan? Beras masih harus import. Gula harus didatengin dari luar negeri. Apa itu gak sama saja penindasan terselubung? Hehehehe. Contoh lain Indonesia negara tambang. Entah itu minyak bumi atau tambang lainnya. Tapi kenapa untuk menikmati itu semua kita harus masih merogoh kocek lebih dalam? Karena baru tau kalau ternyata untuk semua itu masih harus melewati proses pengolahan sampai ke luar negeri dulu baru masuk kembali ke Indonesia. Walau terhitung murah itupun masih harus disubsidi pemerintah. Entah dengan dana dari mana juga dengan cara apa.

Ini masih sebagian contoh kecil men, belum masalah sosial masyarakat yang teramat sering kita jumpai. Walau tak jarang kita sedikit tak merasakannya. Masih adanya bentuk kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin itu juga merupakan belum benar-benar terwujudnya sila kelima dari Pancasila. Dimana yang kaya masih bisa mendapat fasilitas 'WAH' di sektor kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan si miskin masih harus bersusah payah dahulu demi mendapat itu semua. Walaupun akhirnya hasil kerja kerasnya itu hanya mampu mencukupi kebutuhan perut keluarganya selama sebulan, seminggu atau bahkan untuk hari itu saja. Tragis sekali! Sehingga untuk mencukupi kebutuhan kesehatan dan pendidikan saja mereka masih belum mampu. Disini semakin tampak belum 'merdeka'-nya Bangsa Indonesia yang dimana hampir sebagian besar warga negara Indonesia berada pada garis ekonomi menengah kebawah. Belum juga pemerintah yang semakin hari semakin mengutamakan pembangunan. Yang ini dan yang itu sama rakus (lho kok mirip lirik lagunya SUPERIOTS? Ya memang gini adanya gaesss!)

Saking sibuknya mengurus pembangunan ini-itu, mereka bahkan tak sempat mengawasi jalannya program yang sudah ditetapkan. Beras miskin, kartu jamkesmas, BBM bersubsidi, de el el. Apa sudah tepat sasaran untuk yang berhak menerima? BELUM! Masih adanya beras miskin berkualitas rendah yang beredar itu salah satu buktinya. Apa ada penyelewengan dana? Wallahu alam bos. Belum lagi warga negara Indonesia yang susah mendapat fasilitas kesehatan dengan hanya bermodal kartu jamkesmas. Padahal sekian milyar rupiah dana apbn digunakan untuk program ini. Tapi kemana larinya? KORUPSI! Sungguh biadab! Hahahahaha. BBM bersubsidi yang harusnya dinikmati warga berpenghasilan minim malah masih sering kita jumpai mobil-mobil keren nan mewah mengantri di tangki bbm subsidi premium. Duh duh duh duuuuuuuuh, malu buoooos sama pajak yang kamu bayar tapi kamu ambil lagi (walau secara gak langsung sih).

Sebenarnya masih banyak contoh konkret masih terjajahnya bangsa negara Indonesia dari intervensi pihak asing maupun pihak dalam negeri. Yang tentunya berimbas kembali pada warga negara Indonesia itu sendiri. Semoga masalah konkret ini bisa berakhir seiring berjalannya waktu. Seiring perkembangan jaman dan kemajuan SDM bangsa Indonesia. Dan hingga pada akhirnya semua warga negara Indonesia bisa merasakan kemerdekaan yang hakiki. Selamat malam, selamat beristirahat. 

MERDEKA! 
August 16 th — Donozonk aka Ukie Boyo 69.
Read more ...

9 Agu 2014

SURABAYA CELTICOUSTIC NIGHT


Bicara soal Celtic Punk, sebenarnya masih banyak yang bertanya-tanya tentang apa yang tersirat dan tersurat didalamnya. Kebingungan atas pertanyaan tak bertuan pun mulai muncul sana-sini. Celtic Punk, Irish-Folk Punk, dan segala varian yang menyertainya, adalah semacam jenis musik dengan harmoni unik, renyah, rancak, riang gembira, atau kadang juga beratmosfir teramat sedih -yang bisa berpangkat-pangkat lebih tinggi taraf sedihnya dibanding seorang aktor Bollywood yang ditinggal mati seorang gajah-, gertakan-gertakan ganjil nan teratur, singkup-singkup penggugah semangat, teriakan-teriakan nakal sekumpulan pemuda yang dengan aduhainya mendustai tata-tertib chord yang dimainkan, riuh canda para pemabuk slebor yang memarahi pemilik bar untuk jangan pernah memberi gelas terakhir -kalau ditempat kami, adegan seperti ini biasanya terjadi di Warung Kopi-, musik pengiring para pedansa kecil di lantai kumuh sebagai pelepas penat setelah seharian penuh bergelut dengan debu jalanan dan bisingnya mesin-mesin penggiling kacang. Jenis-jenis musik dan irama seperti ini biasa disebut dengan Paddybeat. Yang dibawa dan diperkenalkan oleh para Irish Diaspora (Imigran Irlandia) ke berbagai wilayah di belahan bumi. Diterjunkan dan dilahirkan ke planet ini dengan pesona yang lebih 'nakal' oleh The Pogues. Sekaligus menjadi kelompok yang pertama kali 'mengkawin-silangkan' Celtic/Irish/Folk traditional dengan gaya bermusik seorang Punk-Rock yang lupa jalan menuju kebenaran. Pendahulunya, The Dubliners, lebih kental dengan Traditional Irish Folk-nya. Tanpa imbuhan-imbuhan Punk seperti The Pogues. Bahasa dan musik yang terdengar lebih 'old', menobatkan kelompok ini menjadi bagian dari Pioneer Irish Folk pada jamannya.

Untuk mendeskripsikan sebuah genre musik, kami pikir setiap orang akan punya daya imaji dan daya tangkap tersendiri dalam setiap proses pengamatannya, dan berbeda-beda pula untuk menggambarkannya. Yang barusan adalah deskripsi singkat tentang Celtic Punk menurut Penulis sendiri. Deskripsi, asal-usul, maupun sejarah lebih 'resmi'nya sudah sering dibahas dibanyak artikel, tulisan, blog, maupun literatur-literatur pembanding yang mengupas habis jenis musik ini.

Surabaya Celticoustic Night, lahir dari bacotan-bacotan santai segelintir Pemuda (Surabaya & Sidoarjo) yang nampaknya sama-sama menggandrungi Celtic Punk dengan khidmat bin khusyuk. Mengingat betapa awamnya dan betapa jarangnya pagelaran seperti ini bisa hadir di Kota kami masing-masing, dengan segera kami bermufakat untuk menjadikannya sebagai bacotan nyata. Sulit memang untuk mencari siapa saja yang bersedia menyodorkan Band-nya untuk ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini, disamping karena tema acara yang masih dianggap sebagai hal yang tabu, juga karena sangat-sangat minimnya Band yang menganut genre ini. Di Jawa Timur sendiri hanya ada beberapa liter, diantaranya: Charlie's Rum and The Chaplin (Sby), Black Rawk Dog (Sda), dan Selcouth Smoke (Mlg). Yang ketiganya akan menjadi kelompok penghibur pada pagelaran nanti, 9 Agustus 2014.

Tidak hanya berhenti disini saja, setelah di Surabaya, Celticoustic Night akan direncanakan untuk jalan bergilir ke Kota Malang, kemudian giliran Sidoarjo, lalu kembali lagi ke Surabaya, dengan tajuk yang berbeda; 'Surabaya Celtic Punk Night'. Yang akan menggandeng Band-band Celtic dari Provinsi lainnya (Jabar, Jateng, Bali). Kami berharap ini bisa menjadi sebuah langkah awal untuk mengenalkan sekaligus memasyarakatkan genre yang bisa dibilang masih menjadi minoritas didalam minoritas, karena memang masih banyak yang kurang (atau mungkin masih belum) tahu tentang jenis musik ini (khususnya di daerah kami masing-masing). Dengan dimulainya CELTICOUSTIC di Surabaya, semoga bisa menjadi cambuk bagi kami untuk mulai meneruskan 'misi' ini. Kedepannya, semoga Celtic/Irish-Folk sudah tidak lagi menjadi genre yang baru dan tabu untuk didengar.

Bersulang!
(AS)
Read more ...

26 Jul 2014

ANTI KEMAPANAN ≠ DILARANG MAPAN


Hanya sedikit meluruskan tanpa sedikitpun terbesit niat untuk menggurui. Karena memang terlalu naif jika membiarkan anggapan yang salah kaprah seperti ini menjadi semakin berlarut-larut. Banyak diantara mereka, kita, atau bahkan aku sendiri, sering menelan mentah-mentah definisi setiap kalimat yang pernah dilihat, dibaca, maupun didengar. Tanpa adanya pengkajian ulang apakah daya sensor penerimaan dan pemahaman otak kita sudah benar. Seperti judul tulisan ini misalnya, ANTI KEMAPANAN. Aku sering mendengar kalimat ini muncul dari ucapan orang-orang di lingkungan sekitarku sendiri, yang aku rasa teman-teman di setiap kota dan daerah masing-masing pun juga kerap mendengarnya. Lalu apa masalahnya? Begini, jika kita sedang membicarakan tentang 'Anti Kemapanan' maka tak dapat jauhlah kita dengan 'PUNK'. Sangat sering kujumpai ketika seseorang mendeklarasikan dirinya sebagai Punk lalu dengan cepat dan sigap diambil-lah unsur-unsur kalimat Anti Kemapanan yang akan senantiasa di junjung tinggi di kedua pundaknya. Sampai disini tidak ada masalah. Itu memang benar. Dan memang sepatutnya sikap itu diambil sebagai seseorang yang mengambil 'jalan hidup' ini. Masalahnya adalah ada beberapa (atau mungkin masih banyak) yang belum cukup sempurna untuk menafsirkan esensi dari dua kata ini: 'ANTI KEMAPANAN'.     

Banyak yang beranggapan bahwa Anti Kemapanan adalah gaya hidup yang benar-benar anti mapan, benar-benar anti dengan segala kenyamanan dan kenikmatan yang -kebetulan- sudah diberikan oleh Tuhan masing-masing, benar-benar HARUS SUSAH, tidak boleh sedikitpun ada rasa nyaman maupun mapan didalamnya, harus nggelandang, pakaian dan dandanan harus selalu compang-camping, rambut acak-acakan, bila perlu jangan mandi sekalian. POKOKNYA TIDAK BOLEH MAPAN! Namanya juga Anti Kemapanan. Begitu? Aduh, mengerikan sekali. Dalam kesehariannya, kebetulan aku disini juga sebagai 'pelaku', yang juga sangat sering diterpa serangan peluru panas secara langsung, sering mendengar kata-kata tersebut meluncur lunak menuju kedua telinga. Walaupun terkadang juga terasa agak sedikit panas. Contohnya begini, kalau yang ini agak sedikit curhat: Waktu itu aku sedang makan siang di warung langganan tepat disamping Pabrik tempatku bekerja. Entah kenapa rasanya nafsu makan sedang bagus-bagusnya, segera aku memesan makanan dengan menu yang agak bagusan dari biasanya. Bukan berniat sombong, tapi memang kebetulan waktu itu masih tanggal muda. Masih terbuai masa-masa 'aman'. Tidak lama kemudian, datang seorang teman yang menekan pelatuk tepat disebelah kuping dengan berkata demikian; "Jare punk kok mangan enak? Anti kemapanan'e nangdi bos!" (Katanya punk kok makan enak? Anti kemapanannya mana!). Baiklah, mau dijawab ditempat pun juga percuma. Disamping membuang sia-sia jam istirahat makan siang, juga tidak baik bagi perkembangan nafsu makan. Itu hanya sebagian cerita dari sepotong contoh kecil, masih banyak contoh-contoh kejadian lainnya, yang pada intinya masih pada permasalahan yang sama. Tidak menarik kalau kutulis lengkap dan detailnya disini. Karena aku paham, tulisan ini bukan semacam buka diary atau kolom tempat pengaduan masalah. 

Menurutku -yang kuserap dan kubanding-bandingkan dari beberapa bahan, literatur, nara sumber, pelaku, maupun pengalaman pribadi-, definisi dan esensi dari Anti Kemapanan bukanlah sesempit itu, tidak sedangkal demikian. Anti Kemapanan selalu mempunyai tafsiran tersendiri atau bahkan berbeda-beda dalam setiap ruang lingkup, tujuan, jaman dan masanya. Tergantung seperti apa kondisi dan situasi gejolak sosial, ekonomi, politik di masa/wilayah itu. Misalnya seperti Punk movement di Inggris, Amerika, atau belahan bumi lainnya. Atau juga seperti Punk pada era pertama, dilanjut pada gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang dimaksud 'berbeda' disini ialah berbeda pada sisi penerapan maupun tujuannya, TAPI masih pada garis besar yang sama. Untuk contoh-contoh serta gambaran konkretnya silahkan di-googling sendiri. Atau silahkan langsung menuju Halaman yang agak sedikit bisa dipercaya, Wikipedia. Sudah dibahas lengkap. Tak perlu lagi aku tulis ulang disini.

Kalau boleh kutarik berdasar atas kondisi sosial, ekonomi, dan politik di tempat dimana aku tinggal sekarang, dan menurut versiku sendiri; Anti Kemapanan adalah suatu sikap untuk MELAWAN keadaan dimana kita sudah merasa mapan dan nyaman didalam suatu kondisi yang sudah tercipta (tidak sengaja) atau diciptakan (sudah direncanakan). Kenapa harus dilawan? Sederhana saja, Manusia tidak akan melakukan -atau hanya sekedar merencanakan- suatu perubahan jika keadaan dan kondisi yang didapat sekarang sudah membuatnya merasa mapan dan nyaman. Buat apa masih susah-susah harus 'mempersibuk' diri kalau apa yang dinginkan sudah tercapai? Benar tidak? Masalahnya adalah, yang mapan siapa? Siapa yang nyaman? Siapa? Dirinya sendiri? Oh ya PASTI. Sebagai Manusia, atau sebagai Makhluk Sosial lebih tepatnya, berbahaya sekali jika kita sampai memasuki Lingkaran Kemapanan ini. Lambat laun akan terbentuk suatu pola hidup yang mengajari dan membiasakan kita untuk mengisi segala sesuatunya dengan 'main aman' asal mapan. Kenapa tidak di artikan saja sekalian bahwa: Ketika manusia sudah mapan, maka berakhirlah juga masa hidupnya. Membosankan sekali!

Ini sangat bertentangan sekali dengan teori-teori yang selama ini sudah kurebus di dapurku sendiri. Menjadi mapan bukan berarti menjadi pasif! Ber-Anti Kemapanan-lah dengan baik dan benar menggunakan pola pikir yang lebih terbuka. Terkadang, sepenggal kalimat kuno ini memang terasa benar sekali, "Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah di dapat, jangan pernah merasa cukup". Arti 'jangan pernah puas' disini BUKAN berarti SERAKAH, melainkan; Teruslah melakukan apa yang belum pernah dilakukan, teruslah belajar untuk hal-hal baru yang belum diketahui, teruslah mengejar untuk apa yang belum sempat diraih, teruslah mencari untuk apa yang belum sempat dimiliki -jika memang sudah terpenuhi, bantulah sekitar dengan memberi-, teruslah melawan untuk apa yang patut dilawan, teruslah bertanya untuk apa yang patut dipertanyakan, teruslah, teruslah, teruslah, gali, gali, dan gali. Salah seorang Tokoh idola saya pernah bilang dalam suatu kesempatan: "REVOLUSIMU BELUM SELESAI!" ----- Sepenggal kalimat tersebut sungguh membakar sekali rasanya. Ya! JANGAN PERNAH MERASA MAPAN! Begitulah seharusnya 'Punk' beserta 'Anti Kemapanan'-nya. Buang jauh-jauh asumsi publik bahwa "PUNK harus = SUSAH".

Salam sama rata. 
(AS)  
Read more ...

22 Jul 2014

DO OR DIE MOVEMENT - 'Rp. 1000 Untuk Pendidikan Anak Terlantar'


Setelah cukup sukses di Movement sebelumnya: 'Breakfasting With The Orphans', dengan total donasi uang tunai maupun sumbangan material (pakaian, buku bekas, sembako) yang bisa dibilang sangat mengesankan, kami secara keseluruhan mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah ikut berpartisipasi dan mendukung dalam bentuk segala donasi, ide, pikiran, tenaga, properti, dan lain-lain. Sekedar informasi, segala bentuk donasi tersebut sudah kami sumbangkan 100% kepada Panti Asuhan terkait (Panti Asuhan Al - Huda, Jl. Karah Agung V/2A Surabaya). 

Di bulan Agustus nanti kami akan beranjak ke Movement berikutnya. Dengan masih berkutat di isu-isu sosial dalam negeri yang sudah sangat lama mengakar dan menancapkan tonggak ketidakadilannya dengan sangat beringas namun masih belum mendapatkan perhatian yang cukup dari PEMERINTAH. Beberapa hari yang lalu kami sempat menggelar obrolan-obrolan ringan dengan para sahabat, merumuskan beberapa permasalahan, dan menentukan ke arah mana peluru panas berikutnya akan di tembakkan. Hingga telah sampailah kami dihadapan sebuah isu sederhana yang masih mendapatkan perhatian yang sangat sederhana pula di mata instansi-instansi terkait; PENDIDIKAN. Pendidikan bagi mereka yang menganggap beberapa sendok nasi lebih penting daripada sebuah buku, pendidikan bagi mereka yang menganggap segelas air bersih lebih segar dibanding cerahnya hari depan, pendidikan bagi mereka yang merasa bahwa asap dan debu jalanan adalah atmosfir yang lebih layak dibanding ruangan sepetak berpapan tulis hitam, pendidikan bagi mereka yang tidak tahu-menahu akan arti dari Pendidikan itu sendiri. Bagaimanapun juga tingkat keberhasilan atau kemajuan suatu Bangsa ditentukan oleh seperti apa SDM didalamnya. Percayalah. 

Negeri ini bukan tergolong negeri yang miskin, Indonesia adalah Negara berkembang. Sejak dari kecil kita sudah dijejali cerita-cerita kuno yang turun-temurun diwariskan dari mulut ke mulut yang menceritakan bahwa Indonesia adalah Negara dengan kekayaan alam yang sangat melimpah, bahwa Indonesia terkenal dengan Gemah Ripah Loh Jinawi-nya, dengan laut dan ladang yang menghampar luas. Cerita itu memang benar adanya, walaupun kita mendengarnya dari mulut ke mulut dengan sumber yang tidak seberapa jelas. Tapi setidaknya bukti nyata mulai terlihat dengan sendirinya ketika kita sudah bertransformasi dari anak kecil menjadi pemuda yang beranjak dewasa. Dan dengan segera dapat kita tarik kesimpulan dari cerita kuno tersebut; Ya, Indonesia memang kaya. Iya Indonesia-nya. Bukan kita. Bukan rakyatnya! Mereka yang berkepentingan-lah yang menikmati hasilnya. Jadi, sangat ironis sekali jika kita mengatakan bahwa masih banyak sebagian besar Anak Bangsa yang belum mengenyam pendidikan dengan selayaknya dikarenakan oleh tidak adanya turun tangan dari Pemerintah. Bahkan Pemerintah sudah berencana mengamandemen Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur soal wajib belajar 9 tahun menjadi wajib belajar 12 tahun. Lalu apa masalahnya? Pengimplementasian di lapangan-lah yang belum benar. Sekolah dinyatakan gratis. Tapi apa yang terjadi didalamnya belum seluruhnya bisa dikatakan 'gratis'. Ada proses Daftar Ulang, bayar. Kewajiban pembelian seragam, bayar. Ada himbauan untuk membeli buku-buku tertentu, bayar lagi. Dan masih banyak biaya-biaya 'ekstra' lainnya. Gratis? Tidak. Indonesia kaya? Oh, jelas.

Rp. 1000 Untuk Pendidikan Anak Terlantar, adalah tema Movement kali ini. Dengan tujuan untuk mengurangi beban biaya pendidikan saudara-saudara kita yang sekiranya masih kurang mendapat perhatian selayaknya. Mungkin tidak bisa banyak membantu (karena jumlah dan ruang lingkupnya yang sangat besar), tapi setidaknya kita masih ada kepedulian terhadap orang-orang terdekat, saudara-saudara di sekitar kita, anak-anak terlantar di Kota ini (khususnya wilayah Surabaya dan sekitarnya). Yang kami rasa memang sudah seharusnya mendapatkan PERSAMAAN HAK untuk mengenyam pendidikan dengan semestinya. Bantuan akan langsung kami berikan kepada Badan/LSM yang menangani anak terlantar di Surabaya. Untuk detailnya akan kami update di tulisan berikutnya. 

Movement dilangsungkan selama 3 hari; 15, 16, 17 Agustus. Dengan konsep yang masih sama dengan Movement sebelumnya, yang mana kami masih menggunakan media musik (yang kami rasa masih menjadi media yang paling efektif) sebagai penarik dan penggalang massa, khususnya di kalangan para pemuda. Hari pertama dan kedua, kita gelar aksi turun ke jalan untuk penggalangan dana 'Pendidikan Untuk Anak Terlantar'. Kita lakukan dengan tertib, damai, dan terkoordinir. Hari terakhir, tanggal 17 Agustus, akan ditutup dengan gigs kecil yang diisi oleh para sahabat terbaik yang ikut berpartisipasi dalam Movement kali ini. Yang nantinya juga dibuka penggalangan dana saat gigs berlangsung.

Dengan menampilkan:

- Dynamite Rockers
- Black Rawk Dog
- The Outrageous
- Arcrazya
- Charlie's Rum and The Chaplin
- No Question
- D Jam's All
- Scream For Pride
- Lucky Pair
- Mother Prayer

Berikut penjelasannya:
  1. Movement dilaksanakan selama 3 hari. 15, 16 Agustus (aksi penggalangan dana turun ke jalan) dan tanggal 17 Agustus (gigs penutupan).
  2. Bagi teman - teman yang ikut berpartisipasi diharap kedatangannya untuk mengikuti TM pada tanggal 6 dan 10 Agustus di TA, pukul 8 malam (hasil TM akan kami posting di tulisan berikutnya).
  3. Tempat dan waktu untuk gigs tanggal 17 Agustus: P Two Cafe Surabaya. Start 18.00 - end.
  4. Open donasi:
    Rek. Mandiri a.n. Haniza Ilmansyah 9000013874558
    Rek. BCA a.n. Kemas Reza 6120218253
  5. Info:
    • Angga Saputra 089678383714 / 795CD8B5
    • Gembong 08563190436 / 290E339B
    • Ahsin Maulana 082231434107 / 7A297A36


Regards,
Angga Saputra
as Agitator & Propagandis
Read more ...

8 Jul 2014

DO OR DIE MOVEMENT - 'Breakfasting With The Orphans'



UNTUK SAUDARA KITA YANG MEMBUTUHKAN, UNTUK NEGERI INI, UNTUK KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA. LEPASKAN DAHULU BERBAGAI MACAM ATRIBUT BESERTA SEGALA KEHIRARKIAN DIDALAMNYA. MARI BERBAGI!

Sehubungan dengan mulai sepinya pergerakan di Surabaya dan sekitarnya, terutama bagi para Pemuda, dengan ini kami ingin mengajak teman-teman Band/Individu/Komunitas yang sekiranya mempunyai pikiran dan kemauan yang sama untuk berpartisipasi dalam gigs-gigs maupun kegiatan-kegiatan yang bergerak di bidang sosial/lingkungan/budaya yang akan kami adakan secara rutin dan berkelanjutan. Dengan maksud positif, kita ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwasannya kita sebagai Pemuda tidak hanya mampu untuk sorak-sorai bergembira atau bahkan sampai meresahkan sebagian khalayak umum. Mari kita tepis paradigma kuno yang seperti itu. Kita lahirkan pergerakan-pergerakan yang membangun (walaupun sementara ini masih dalam skala kecil), tapi tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi cikal bakal pergerakan yang besar!

Untuk mengawalinya, bertepatan dengan pekan ramadhan yang sedang berlangsung, kami akan mengadakan gigs amal yang nantinya 100% hasil dari kegiatan ini akan disumbangkan kepada Yatim-piatu/Panti asuhan setempat. Berikut penjelasannya:

1. Bagi Band/Individu/Komunitas yang ikut berpartisipasi, diharap dengan ikhlas dan ketersediannya menyisihkan barang-barang yang sudah tidak dipakai untuk disumbangkan. Bisa berupa pakaian-pakaian bekas, buku-buku bekas, atau barang-barang bekas lainnya yang sekiranya masih layak untuk disumbangkan.

2. Dengan tidak memaksa, kami sangat berharap setiap personel Band/Individu/Komunitas bersedia membawa sembako berupa beras atau gula. Kuota/jumlah sumbangan sembako tidak kami batasi. Terserah. Tidak ada batas minimal. Asal ikhlas dengan niatan berbagi dengan saudara kita yang membutuhkan.

3. Waktu dan Tempat:
• Pada hari: Minggu, 13 Juli 2014
• Pukul: 14.00-18.30 WIB
• Tempat: Panti Asuhan Al-Huda, Jl. Karah Agung V/2A Surabaya.

4. Sangat dipersilahkan dengan sangat jika ada teman-teman dari perwakilan Band/Individu maupun Komunitas yang bersedia memberikan tanggapan, pengarahan, edukasi kilat, ide-ide segar, ataupun wacana-wacana singkat yang akan kami persilahkan secara langsung untuk menyampaikannya pada saat acara dimulai atau pada pertengahan acara. Dengan maksud untuk lebih memanfaatkan kegiatan sosial ini dengan sebaik-baiknya.

5. Untuk informasi dan konfirmasi keikutsertaan, serta bagi teman-teman yg ingin bergabung atau berkeinginan untuk menjadi Donatur di acara ini bisa menghubungi CP berikut:
• Angga Saputra: 089678383714 / 759CD8B5
• Gembong: 08563190436 / 290E339B
• Ahsin Maulana: 082231434107 / 7A297A36

6. Donasi bisa berupa barang (pakaian bekas layak pakai, buku bekas layak baca, dll), atau bisa berupa uang. Transfer via:
•rek. Mandiri a.n. Haniza Ilmansyah 9000013874558
•rek. BNI a.n. Putri Juwita 0337869637
•rek. BCA a.n. Kemas Reza 6120218253

(*) 100% hasil dari donasi yg terkumpul akan disumbangkan kepada Panti Asuhan. Segala bentuk donasi dibuka sampai pada tanggal 10 Juli 2014.

7. Kegiatan ini akan diisi dengan Buka Puasa Bersama, Live Musik Akustik, & Edukasi Kilat dari teman-teman Komunitas. 

BAND
•Glory For Heroes
•Lucky Pain
•Mother Prayer
•Psychostics
•Silence Voice
•Donalduck Attack
•Always Crazy
•SWA Project
•No Question
•Arcrazya
•Thank's Giving
•Black Rawk Dog
•Goodbye Phobia
•Charlie's Rum And The Chaplin

KOMUNITAS
•United Army Surabaya
•Crocodile Boogie
•Komunitas Fansbase Surabaya
•KINNE Komunikasi UPN
•MULOS Sidoarjo

Supported by:
-IDTFC Regional Surabaya
-LPFI Jatim
-EvClub Jatim
-Idiot Club Regional Jatim
-KACAKATAKUDA
-Fiend Merch Surakarta
-Biggers Indonesia Chapter Surabaya
-The Fallen Surabaya
-Avril Lavigne Surabaya

Salam hangat,
Do or Die Movement.

(AS)

Read more ...

3 Jul 2014

DIALOGKU DENGAN PAK SUWONDO


Written and contributed by Wahyu Kusuma Jati

Yak, mungkin tulisan kali ini akan bercerita tentang obrolanku bersama seorang kakek tua. Oke, akan ku perkenalkan kakek itu. Dia bernama Suwondo, kakek tua yang berumur sekitar 80 tahunan. Tinggal di suatu perumahan yang bisa dibilang cukup mewah. Tapi jangan kalian pikir kakek ini adalah seorang kakek yang tua, lemah, dan cuma duduk-duduk saja menikmati masa tua, tidak! Beliau masih segar bugar seperti baru berumur 40-50an! Gilaaaa.

Oiya, aku dikenalkan oleh seorang teman, beliau bernama Paiman, yang belum lama juga ku kenal. Jangan kira beliau seumuranku, tidak. Beliau juga termasuk lansia, kakek berumur 65-an lah

Oke, akan kumulai ceritaku. 
Sekitar kemarin malam aku memberanikan diriku berkunjung ke rumah beliau, tentunya bersama Pakde Paiman (sapaanku kepadanya). Dengan hanya bermodal nekat dan sebungkus rokok, aku menuju ke rumah beliau. Kulihat dari kejauhan nampak rumah yang lumayan megah. Seeeeer, jadi agak ragu aku melihat rumah itu. Apa aku akan diterima? Apa aku diperbolehkan masuk? Nanti diusir nggak ya? Ahh tapi apa boleh buat, dengan kenekatan dan segala gejolak di batin ini, aku beranikan kesana.

Pertama Pakde Paimin memencet bel "tingtongtingtong", keluarlah wanita muda nan cantik, huahahaha. Dia menyapa "Eh, Pak Paimin tumben malem-malem kesini, ada apa? Loh, sama siapa pak?" Tanpa ba bi bu Pak Paimin menjawab, "Iya mbak, ini mau nganter mas (namasaya), pengen ketemu sama Bapak". Dan berkenalan lah aku dengan wanita itu. Hahahaha, sudah sudah, soal perkenalan dengan wanita tadi, sekarang saya sudah bbm'an sama dia. Huwahahahahha. Yak, lanjuuuut! Kami pun masuk, kulihat lelaki tua duduk sembari melihat ikan-ikannya. Kami dipersilahkan duduk. “Sial, ramah sekali keluarga ini”, pikirku. Pakde Paimin membuka obrolan, "Ini Pak, ada yang pengen ketemu sama Bapak". Tanpa basa-basi aku perkenalkan diriku, blablabla.

"Ada perlu apa, Dik?" Serrrr, aku blaaank, semua pertanyaan tiba-tiba lenyap bak tanggal tua :))) “Nggg, anu Pak, saya mau tanya tentang peristiwa G30s/PKI" (pertanyaan itu ku ucapkan dengan ragu-ragu dan agak takut tentunya). Dengan sedikit senyum beliau menjawab, “Pengen tau apa? Bukankah kamu sudah tau dari film yang diputar setiap 30 september? Mau tau apa lagi?”. “Ya Pak, saya pengen tau peristiwa itu langsung dari Bapak . Katanya Bapak juga sempet terlibat”. Menurut cerita Pakde Paimin, Bapak Suwondo juga ikut serta dalam peristiwa itu. “Hahahhaha, kamu ngomong apa min sama anak ini”, sentil Pak Suwondo. “Saya ngomong banyak Pak, dia bukan anak muda biasa, dia bisa dipercaya. Dia sedang belajar apa itu Sosialisme, Pak. Apa itu ke-sama rasa sama rata-an", balas Pakde Paimin. "Sial, ngomong apa Pakde Paimin, kenapa dia berani ngomong gitu", batinku. “Oke, Nak, apakah kau benar-benar bisa dipercaya? Apa kau belum cukup yakin dengan film itu?”, Pak suwondo bertanya padaku. “Bisa Pak! Aku belum cukup yakin dan tidak yakin sebelum aku tau cerita sebenarnya dari ‘korban’ kebengisan itu". "Yasudah nak, mau mulai dari mana? Dari teman-temanku dibantai rezim Soeharto? Apa dari kami difitnah sebagai penganut aliran sesat?”. “Terserah Bapak, dari manapun saya akan mendengarkan”. “Oke, akan mulai kujelaskan”. Tiba-tiba beliau memangil sebuah nama, datanglah seorang wanita tua, kemudian Pak Suwondo menyuruhnya untuk membuat kopi dan menawariku, "Kamu minum apa, le? Biar dibuatkan sekalian". Aku jawab, "Kopi hitam, Pak. Tapi gulanya sedikit saja, jangan banyak-banyak". “Edyaan kamu masih muda sukanya kopi pait”, lalu ku keluarkan rokokku, beliau malah menyeletuk , “Wah apa itu rokok buatan londo? Iki loh rokok tenan",  dikeluarkanlah rokok kretek bermerk ‘234’. Saat itu aku membawa rokok Marlboro,  hehehehehe.

Mulailah beliau bercerita...
“Jadi gini nak, sesungguhnya apa yang dulu kamu tonton setiap tanggal 30 itu salah besar! Kami tidak berniat menghianati Bangsa ini, kami ingin negara ini hidup tentram, PKI bukan penganut aliran sesat. Kalau kami beraliran sesat, kenapa kami cantumkan Ketuhanan di asas kami? Kami dari golongan kecil, kami perjuangkan rakyat kecil. Tapi semua itu diputar balikan oleh Soeharto, Nak . Kenapa bisa begitu? Ya karena politik, Nak. Soeharto tau PKI itu Partai yang besar, massa kami banyak. Soeharto memutar balikan fakta. Kami di cap biang kerusuhan, tidak taat peraturan, padahal kami tidak begitu. Itu cuma akal-akalan Soeharto biar kami terpecah belah, biar kami hilang. Komunis kami bukan komunis seperti manusia berkumis tengah itu. Kami mengutamakan rakyat kecil dan Sosialisme, Nak! Kami tidak pernah berniat menghianati Bangsa ini. Dahulu ketika peristiwa itu pecah, negara ini layaknya lautan darah . Perang saudara dimana-mana. Kami saling bunuh. Siapa yg dicap PKI, dibantai layaknya hewan. Seharusnya kamu tau nak itu ulah siapa. Siapa dibalik semua itu. Apa daya kami tak bisa melawan. Mereka terlanjur benci dengan kami. Sebenarnya apa salah kami? Sampai sekarang aku pun masih bingung sebenarnya apa salah kami. PKI bukan  penghianat Bangsa ini. Oiya nak, terus apa yang akan kamu lakukan setelah aku bercerita seperti ini?". "Aku akan menulisnya, Pak. Akan ku sebarkan kepada teman-temanku biar mereka tau, Pak. Aku ingin sedikit banyak meluruskan apa yang rezim Orba bengkokkan. Itu saja”, ujarku. “Aduh, tapi tolong jangan pernah beritahu siapapun dimana aku tinggal, Nak. Aku sudah bosan dikucilkan, dicaci orang, dijauhi, aku ingin dianggap manusia juga!”, sentak Pak Suwondo.

Oiya teman,  saat itu waktu sudah hampir jam 11. Sebagai tamu, aku harus lekas segera berpamitan pulang.

"Pak, sepertinya cerita ini harus dipotong dulu, waktu sudah terlalu larut malam", ceplosku. "Ohh, iya nak. Baiknya kita lanjutkan  kapan-kapan saja. Aku mulai tau tujuanmu kesini. Kalau masih ada, akan kucari dan kuberikan buku-buku lamaku untuk kau pelajari, Nak. Kalau ada waktu datanglah lagi kesini, mari bicara denganku!", ujarnya.

Lalu aku pulang dan sebenarnya masih banyak yang ingin kutanyakan padanya. Tapi waktulah yang tidak tepat. Tak apalah, setidaknya aku sudah bertukar Pin BB dengan cucunya. Hahahahahahah. Maaf tulisannya amburadul. Malam itu aku sedang sakit, jadi kurang konsentrasi :D 

Bersambung... 

Read more ...

JUNI, DI NEGERIKU (Jilid II)


Sudah lewat tutup bulan, dan rasa-rasanya Juni kali ini memang menarik sekali untuk dikuliti. Aku ingin merangkum sedikit dari sekian puluh momen yang sudah terlewat. Semoga benar-benar sedikit. 

Dimulai dari Pemilu 2014, apa yang temanku pikirkan? Kopi? Benar sekali. Aku sendiri pun sebenarnya tak mau terlalu larut hingga terbuai bin terlena dalam perhelatan drama ter-akbar tahun ini. Tapi apalah daya, gambar deretan pulau di sisi belakang dari KTP-ku-lah yang mengajakku sedikit banyak untuk ikut mengkritisi alur ceritanya. Karena disitu tertulis sebuah kalimat yang penulisannya tanpa proses perundingan dulu dengan Si Pemilik KTP, tanpa aku yang meminta, sederet kalimat wahyu dari Penguasa di masanya; Kartu Tanda Penduduk REPUBLIK INDONESIA. Baiklah, tak perlu lagi aku harus menafsir ngalor-ngidul untuk meminta pertanggung-jawaban atas penulisan sejengkal kalimat yang kesannya Non-Demokratis tersebut. Maka segera kutarik kesimpulan dengan lebih sederhana. Ya, aku terlahir sebagai WNI, aku patut merayakan euforia kebanggaan ini, aku merasa terhormat, dan aku berHAK untuk mengkritisi, mendukung, atau bahkan mencaci-maki pergolakan apa saja yang terjadi didalamnya, termasuk Pemilu. Ya kan? Karena apa? KTP!

Disini aku masih terbilang netral, tapi bukan berarti belum menentukan pilihan. Untuk siapa pilihannya, ada baiknya aku kesampingkan sedikit soal itu. Karena memang tulisan ini bukan sebagai ajang kampanye murahan. Yang ingin kuceritakan lebih mengarah kepada si Pendukung, aku, kamu, kalian, kita semua. Bukan kepada si Capres. Karena siapapun Presidennya, pemegang sebagian besar kendali perekonomian RI tetaplah para Investor asing. Bukan Negara. Percayalah. Atau barangkali ada sebagian temanku disini yang percaya bahwa akan ada salah satu Capres yang berhasil menasionalisasikan semua Perusahaan/Instansi yang berstatus 'milik asing'? Yang bisa membawa NKRI untuk menjadi Negara yang tidak bergantung kepada Pihak Asing lagi? Jika demikian, mari didoakan saja. Tapi jika keluar jauh sekali dari apa yang pernah dijanjikan dalam setiap kesempatan selama berkampanye, mari secepatnya kita buat gusar dan gelisah. Hahaha. Ini Negara Demokrasi kan? Walaupun masih dalam taraf Demokrasi abal-abal.  

Beberapa minggu yang lalu, aku sedang asyik jalan-jalan di sebuah jejaring sosial sejuta umat, sejuta model, sejuta macam tingkah dan jenis umat, sejuta keluhan pribadi juga tentunya, serta tidak lupa dengan sejuta doa-doa khusuk yang dipanjatkan kepada sang Tuhan (baca: Yang Maha Facebook). Kutemukan sebuah foto yang diunggah oleh salah seorang teman, berikut penampakannya: 



Aku tertarik sekali. Memang seperti itulah harusnya sikap kita sebagai Warga Negara yang 'benar' didalam sebuah Bangsa yang besar! Disaat yang lain sedang gencar dan sibuk menjatuhkahkan elektabilitas Capres yang tidak dikehendaki, dan begitu juga sebaliknya (me-Nabi-kan Capres yang dikehendaki), gambar ini hadir dengan rasa baru lagi sejuk di mata. Bagaimana bisa Negara kita dihormati (maunya begitu) oleh negara lain jika kita yang secara langsung tertunjuk sebagai elemen didalamnya tidak bisa menghormati calon Pemimpin sendiri? Anggap saja begini, anda ingin mempunyai seekor rumah yang bersih dan enak dipandang, tetapi apa yang anda lakukan sebagai pemilik langsung dari rumah tersebut malah dengan seenak-udel mencorat-coret pagar dihalaman, menempeli pintu dengan berbagai macam poster berbau porn dan sebagainya. Bagaimana? Kita ini unik bukan? Silahkan disimpulkan sendiri, karena sedikitpun aku tidak pernah memilihkan sebuah tempat untuk dimana sudut pandang yang bener harus diletakkan. Dan aku juga tidak sanggup memilihkan sebuah jalan untuk dimana jalan seharusnya yang akan ditempuh sebuah pola pikir untuk menemukan jalan yang benar ditengah maraknya ke-absurd-an jalan yang sedang kita jalani. Kalau agak sedikit bingung dengan kalimat barusan, silahkan jalan-jalan dulu. Santai. Intinya, teman-temanku disini sudah cukup cerdas untuk mengkritisi sebuah permasalahan.   

Perlu diingat -tidak diingat juga tidak seberapa menimbulkan masalah- menjadi seorang Pemimpin tidaklah mudah. Banyak omong dikira agresif, sedikit omong dikira Pemimpin plekenyik (meminjam istilah Mas Steph O'Piztt), dekat dengan rakyat dikira 'ada maksud dan maunya', jauh dari rakyat dikira arogan, sering ke Luar Negeri dikira hobi bertamasya, nggak pernah ke Luar Negeri dikira kemampuan Diplomatis Internasional-nya lembek, menerima bantuan dari Luar dikira kaki tangan Asing, menutup bantuan dari Luar dikira memperlambat agenda Pembangunan, dan lain-lain dan lain-lain. Aduh susah betul kan jadi Presiden? Repot kan? YA MAKA DARI ITU. Di masa Kepemimpinan seorang Pemimpin di Negara manapun pasti terindikasi adanya pihak yang Pro dan pihak yang meng-Kontra. Itu sudah wajar, bahkan tidak berlebihan jika aku menyebutnya sebagai salah satu bagian dari hukum alam. Nabi yang dianggap sudah paling benar sekalipun masih mempunyai banyak musuh! Yang salah Nabi-nya atau Musuh-nya? Lantas, dimana letak kebenaran? Kalau aku boleh mengutip salah satu ocehan dari salah satu Sahabat di Kota Udang, Rea Van Akkerendia berkata; "Kebenaran adalah versi". Manis sekali! Harusnya disini para pendukung -entah dari Kubu A atau Kubu B- tidak seharusnya untuk saling serang! Buat apa? Apa sudah yakin kalau yang dijunjung sudah benar? Apa sudah yakin kalau yang dicaci-maki itu salah? Dapat keyakinan darimana? Dari media cetak, visual, dan sebagainya? Horaaaaaay! Kalau memang terlampau fanatik kepada salah satu kandidat, silahkan sebarkan berita positif mengenai Beliau. Disamping lebih berasa 'terdidik' dan bermanfaat, cara yang seperti ini juga dapat menjadi konsumsi publik untuk lebih meyakinkan dan sebagai bahan pertimbangan kepada siapa pilihan akan jatuh pada tanggal 9 Juli nanti. Dengan mengetahui kelebihan masing-masing Capres, akan memudahkan kita untuk menilai dari berbagai macam sudut pandang. KALAUPUN nantinya ada keburukan, kebobrokan, ketidak-sukaan, dari Capres yang tidak dikehendaki -atau dari Capres yang berada di kubu lawan- cukuplah simpan saja di hati masing-masing. Cukuplah sebagai bahan konsumsi untuk diri sendiri. Namanya juga manusia, kan? Tidak ada yang sepenuhnya benar. Kondisi perpolitikan kita sudah keruh sejak dari jaman 'itu' (baca: ORBA, Reformasi, anak-anak jaman setelahnya). Jangan diperkeruh lagi dengan asumsi-asumsi sepihak yang belum tentu dapat dibenarkan darimana sumbernya. Bijaklah sedikit. Pikir dulu sebelum bertindak. Pikir dulu sebelum meluncurkan manuver- manuver konyol. Kita dilahirkan sebagai WARGA NEGARA INDONESIA, bukan sebagai PENYAKIT NEGARA INDONESIA. Oke, aku kira cukup untuk Pemilu 2014. Mari berlanjut ke isu berikutnya.

Secara garis besar masih menyinggung di pokok bahasan mengenai Belantika Pemilu 2014. Karena pada dasarnya memang hanya isu-isu seperti itu yang benar-benar begitu menggemaskan untuk kubongkar. Sebenarnya masih banyak cerita di Juni ini seperti; Pelecehan YKS terhadap Benyamin S. serta kabar baik tentang pemberhentian program tersebut, uniform Si Dhani yang jadi lirikan dunia Internasional, tentang hiruk-pikuk Piala Dunia 2014, atau tentang program Beasiswa Presiden yang diberikan SBY secara langsung untuk anak seorang Tukang Becak, atau tentang bagaimana tanggapan TF lovers tentang film kesayangannya yang ternyata terkesan over effect, atau tentang Penutupan Dolly yang sangat disesalkan sekali sodara-sodaraaaa sekalian! -hahaha- Ah, tapi biarlah itu menjadi bahan obrolan media-media mainstream untuk memenuhi kolom beritanya. Bisa saja aku ikut mengkritisi tentang uniform Si Dhani atau tentang diberhentikannya YKS, tapi buat apaaaaaaaa? Nanti malah terkesan kurang kerjaan. Aku masih repot.

Aku ingin ngobrol-ngobrol ringan sedikit tentang Revolusi Mental, yang tampaknya dijadikan jargon oleh salah satu Capres. Maaf, kali ini aku tidak bermaksud mengarahkan lagi peluru panas kepada Capres maupun para pendukungnya, aku juga tidak sedang berpihak ke Program Revolusi Mental yang diusungnya. Aku tekankan sekali lagi, disini aku masih netral, sekaligus masih perjaka. Oke, mari kita mulai. Perlu diketahui, gagasan REVOLUSI MENTAL pertama kali didengungkan oleh Karl Marx lewat karyanya 'Eighteenth Brumaire of Louis Bonapartem' pada tahun 1869. Digunakan juga oleh sebuah gerakan di Cina 'May Four Enlightenment Movement' yang dipimpin oleh Chen Duxui (pendiri Partai Komunis Cina) pada tahun 1919. Maaf agak sok pintar sedikit, Judul/Nama maupun Tahun yang sulit diucapken dan dihapalken berikut aku culik dari Google, kok. Sebenarnya gagasan Revolusi Mental sudah lama di propagandakan Kaum Sosialis-Komunis di kawasan Eropa untuk mendobrak kungkungan ajaran agama. Karena menurut Karl Marx sendiri, dogmatisme yang salah tentang agama dianggap menghambat jalannya Revolusi.  Di Indonesia sendiri istilah ini pernah dipakai oleh Ahmad Aidit yang kemudian mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit), Pimpinan Tertinggi PKI. DN Aidit sampai mengganti namanya dikarenakan alasan Revolusi Mental. Bagi Aidit, revolusi mental harus dimulai dengan mengganti hal-hal yang dianggap menghambat pergerakan, termasuk nama "Ahmad" yang berbau Islam. 

Nah, cukup sudah penjelasan singkatnya. Sekarang yang jadi masalah adalah; Mengapa di Kubu Jokowi sangat menolak jika Revolusi Mental disebut sebagai gagasan atau ide yang sangat dekat sekali dengan Komunis???? Padahal intinya ya sama. Revolusi mental ya Revolusi mental! Perubahan cara berpikir, perubahan dari pribadi yang 'buruk' ke pribadi yang lebih 'baik', pembentukan karakter, dll. Okelah kalaupun Kubu Jokowi tidak mau mengakuinya, okelah kalau mungkin hanya ada kebetulan pada istilah yang sama tapi dengan penerapan dan artian yang berbeda. Aku bisa memakluminya. Yang pasti, konsep Revolusi Mental buatan Jokowi tidak ada apa-apanya dibanding Revolusi Mental Sosialis-Komunis yang sangat Ideologis dengan berdasar pada kerangka berpikir yang jauh lebih sistematik! Tapi kenapa Kubu Jokowi sampai menimbulkan kesan bahwa Revolusi Mental ala Bapaknya seakan-akan jauh diatas Revolusi Mental Sosialis-Komunis? Yang seakan-akan malah jijik dan menolak dengan tegas jika didekatkan dengan dasar-dasar pemikiran Sosialis-Komunis? Di Kubu Prabowo pun juga demikian. Menuduh kubu lawan dengan tuduhan bahwa Revolusi Mental Jokowi adalah suatu gagasan yang berkeinginan untuk mengikuti, menyebarluaskan, dan membangunkan lagi paham Sosialis-Komunis di Indonesia. Pertanyaannya, SEHINA ITUKAH SOSIALIS-KOMUNIS DIMATAMU, WAHAI BAPAK-BAPAKKU? ATAU KEBANGKITAN SOSIALIS-KOMUNIS TERLALU MEMBAHAYAKAN BAGI KEPENTINGAN-KEPENTINGANMU DI NEGERI INI, PAK? Oke, jangan salahkan aku kalau kusebut Revolusi Mental-mu tak lebih dari Revolusi Dangkal! Impas. Ternyata doktrin-doktrin Penguasa di era 'kegelapan' masih efektif sampai pada detik ini, bahkan di kalangan para elit politik! Selama dominasi Neo-Kolonialisme dan Neo-Imperialisme masih tumbuh subur di Negeri ini, selama itu pula nasib kebenaran akan senantiasa disalahkan. 

Aku rasa cukup sampai disini dulu. Terlalu banyak paragraf sungguhlah tidak efektif untuk dibaca di sela-sela jam ngopi. Sampai ketemu dilain tulisan, temanku. Salam buat keluarga. 

Salamku,

Sama rata sama rasa! 
(AS)

Photo by Tri Joko, Civil Engineer, Photographer, Yokyakarta, Indonesia
Read more ...