Sudah lewat tutup bulan, dan rasa-rasanya Juni kali ini memang menarik sekali untuk dikuliti. Aku ingin merangkum sedikit dari sekian puluh momen yang sudah terlewat. Semoga benar-benar sedikit.
Dimulai dari Pemilu 2014, apa yang temanku pikirkan? Kopi? Benar sekali. Aku sendiri pun sebenarnya tak mau terlalu larut hingga terbuai bin terlena dalam perhelatan drama ter-akbar tahun ini. Tapi apalah daya, gambar deretan pulau di sisi belakang dari KTP-ku-lah yang mengajakku sedikit banyak untuk ikut mengkritisi alur ceritanya. Karena disitu tertulis sebuah kalimat yang penulisannya tanpa proses perundingan dulu dengan Si Pemilik KTP, tanpa aku yang meminta, sederet kalimat wahyu dari Penguasa di masanya; Kartu Tanda Penduduk REPUBLIK INDONESIA. Baiklah, tak perlu lagi aku harus menafsir ngalor-ngidul untuk meminta pertanggung-jawaban atas penulisan sejengkal kalimat yang kesannya Non-Demokratis tersebut. Maka segera kutarik kesimpulan dengan lebih sederhana. Ya, aku terlahir sebagai WNI, aku patut merayakan euforia kebanggaan ini, aku merasa terhormat, dan aku berHAK untuk mengkritisi, mendukung, atau bahkan mencaci-maki pergolakan apa saja yang terjadi didalamnya, termasuk Pemilu. Ya kan? Karena apa? KTP!
Disini aku masih terbilang netral, tapi bukan berarti belum menentukan pilihan. Untuk siapa pilihannya, ada baiknya aku kesampingkan sedikit soal itu. Karena memang tulisan ini bukan sebagai ajang kampanye murahan. Yang ingin kuceritakan lebih mengarah kepada si Pendukung, aku, kamu, kalian, kita semua. Bukan kepada si Capres. Karena siapapun Presidennya, pemegang sebagian besar kendali perekonomian RI tetaplah para Investor asing. Bukan Negara. Percayalah. Atau barangkali ada sebagian temanku disini yang percaya bahwa akan ada salah satu Capres yang berhasil menasionalisasikan semua Perusahaan/Instansi yang berstatus 'milik asing'? Yang bisa membawa NKRI untuk menjadi Negara yang tidak bergantung kepada Pihak Asing lagi? Jika demikian, mari didoakan saja. Tapi jika keluar jauh sekali dari apa yang pernah dijanjikan dalam setiap kesempatan selama berkampanye, mari secepatnya kita buat gusar dan gelisah. Hahaha. Ini Negara Demokrasi kan? Walaupun masih dalam taraf Demokrasi abal-abal.
Beberapa minggu yang lalu, aku sedang asyik jalan-jalan di sebuah jejaring sosial sejuta umat, sejuta model, sejuta macam tingkah dan jenis umat, sejuta keluhan pribadi juga tentunya, serta tidak lupa dengan sejuta doa-doa khusuk yang dipanjatkan kepada sang Tuhan (baca: Yang Maha Facebook). Kutemukan sebuah foto yang diunggah oleh salah seorang teman, berikut penampakannya:

Aku tertarik sekali. Memang seperti itulah harusnya sikap kita sebagai Warga Negara yang 'benar' didalam sebuah Bangsa yang besar! Disaat yang lain sedang gencar dan sibuk menjatuhkahkan elektabilitas Capres yang tidak dikehendaki, dan begitu juga sebaliknya (me-Nabi-kan Capres yang dikehendaki), gambar ini hadir dengan rasa baru lagi sejuk di mata. Bagaimana bisa Negara kita dihormati (maunya begitu) oleh negara lain jika kita yang secara langsung tertunjuk sebagai elemen didalamnya tidak bisa menghormati calon Pemimpin sendiri? Anggap saja begini, anda ingin mempunyai seekor rumah yang bersih dan enak dipandang, tetapi apa yang anda lakukan sebagai pemilik langsung dari rumah tersebut malah dengan seenak-udel mencorat-coret pagar dihalaman, menempeli pintu dengan berbagai macam poster berbau porn dan sebagainya. Bagaimana? Kita ini unik bukan? Silahkan disimpulkan sendiri, karena sedikitpun aku tidak pernah memilihkan sebuah tempat untuk dimana sudut pandang yang bener harus diletakkan. Dan aku juga tidak sanggup memilihkan sebuah jalan untuk dimana jalan seharusnya yang akan ditempuh sebuah pola pikir untuk menemukan jalan yang benar ditengah maraknya ke-absurd-an jalan yang sedang kita jalani. Kalau agak sedikit bingung dengan kalimat barusan, silahkan jalan-jalan dulu. Santai. Intinya, teman-temanku disini sudah cukup cerdas untuk mengkritisi sebuah permasalahan.
Perlu diingat
-tidak diingat juga tidak seberapa menimbulkan masalah- menjadi seorang Pemimpin tidaklah mudah. Banyak omong dikira agresif, sedikit omong dikira Pemimpin
plekenyik (meminjam istilah Mas
), dekat dengan rakyat dikira 'ada maksud dan maunya', jauh dari rakyat dikira arogan, sering ke Luar Negeri dikira hobi bertamasya,
nggak pernah ke Luar Negeri dikira kemampuan Diplomatis Internasional-nya lembek, menerima bantuan dari Luar dikira kaki tangan Asing, menutup bantuan dari Luar dikira memperlambat agenda Pembangunan, dan lain-lain dan lain-lain. Aduh susah betul kan jadi Presiden? Repot kan?
YA MAKA DARI ITU. Di masa Kepemimpinan seorang Pemimpin di Negara manapun pasti terindikasi adanya pihak yang Pro dan pihak yang meng-Kontra. Itu sudah wajar, bahkan tidak berlebihan jika aku menyebutnya sebagai salah satu bagian dari hukum alam. Nabi yang dianggap sudah paling benar sekalipun masih mempunyai banyak musuh! Yang salah Nabi-nya atau Musuh-nya? Lantas, dimana letak kebenaran? Kalau aku boleh mengutip salah satu ocehan dari salah satu Sahabat di Kota Udang,
Rea Van Akkeren, dia berkata; "
Kebenaran adalah versi". Manis sekali! Harusnya disini para pendukung
-entah dari Kubu A atau Kubu B- tidak seharusnya untuk saling serang! Buat apa? Apa sudah yakin kalau yang dijunjung sudah benar? Apa sudah yakin kalau yang dicaci-maki itu salah? Dapat keyakinan darimana? Dari media cetak, visual, dan sebagainya?
Horaaaaaay! Kalau memang terlampau fanatik kepada salah satu kandidat, silahkan sebarkan berita positif mengenai Beliau. Disamping lebih berasa 'terdidik' dan bermanfaat, cara yang seperti ini juga dapat menjadi konsumsi publik untuk lebih meyakinkan dan sebagai bahan pertimbangan kepada siapa pilihan akan jatuh pada tanggal 9 Juli nanti. Dengan mengetahui kelebihan masing-masing Capres, akan memudahkan kita untuk menilai dari berbagai macam sudut pandang.
KALAUPUN nantinya ada keburukan, kebobrokan, ketidak-sukaan, dari Capres yang tidak dikehendaki
-atau dari Capres yang berada di kubu lawan- cukuplah simpan saja di hati masing-masing. Cukuplah sebagai bahan konsumsi untuk diri sendiri. Namanya juga manusia,
kan? Tidak ada yang sepenuhnya benar. Kondisi perpolitikan kita sudah keruh sejak dari jaman 'itu'
(baca: ORBA, Reformasi, anak-anak jaman setelahnya). Jangan diperkeruh lagi dengan asumsi-asumsi sepihak yang belum tentu dapat dibenarkan darimana sumbernya. Bijaklah sedikit. Pikir dulu sebelum bertindak. Pikir dulu sebelum meluncurkan manuver- manuver konyol. Kita dilahirkan sebagai
WARGA NEGARA INDONESIA, bukan sebagai
PENYAKIT NEGARA INDONESIA. Oke, aku kira cukup untuk Pemilu 2014. Mari berlanjut ke isu berikutnya.
Secara garis besar masih menyinggung di pokok bahasan mengenai Belantika Pemilu 2014. Karena pada dasarnya memang hanya isu-isu seperti itu yang benar-benar begitu menggemaskan untuk kubongkar. Sebenarnya masih banyak cerita di Juni ini seperti; Pelecehan YKS terhadap Benyamin S. serta kabar baik tentang pemberhentian program tersebut, uniform Si Dhani yang jadi lirikan dunia Internasional, tentang hiruk-pikuk Piala Dunia 2014, atau tentang program Beasiswa Presiden yang diberikan SBY secara langsung untuk anak seorang Tukang Becak, atau tentang bagaimana tanggapan TF lovers tentang film kesayangannya yang ternyata terkesan over effect, atau tentang Penutupan Dolly yang sangat disesalkan sekali sodara-sodaraaaa sekalian! -hahaha- Ah, tapi biarlah itu menjadi bahan obrolan media-media mainstream untuk memenuhi kolom beritanya. Bisa saja aku ikut mengkritisi tentang uniform Si Dhani atau tentang diberhentikannya YKS, tapi buat apaaaaaaaa? Nanti malah terkesan kurang kerjaan. Aku masih repot.
Aku ingin ngobrol-ngobrol ringan sedikit tentang Revolusi Mental, yang tampaknya dijadikan jargon oleh salah satu Capres. Maaf, kali ini aku tidak bermaksud mengarahkan lagi peluru panas kepada Capres maupun para pendukungnya, aku juga tidak sedang berpihak ke Program Revolusi Mental yang diusungnya. Aku tekankan sekali lagi, disini aku masih netral, sekaligus masih perjaka. Oke, mari kita mulai. Perlu diketahui, gagasan REVOLUSI MENTAL pertama kali didengungkan oleh Karl Marx lewat karyanya 'Eighteenth Brumaire of Louis Bonapartem' pada tahun 1869. Digunakan juga oleh sebuah gerakan di Cina 'May Four Enlightenment Movement' yang dipimpin oleh Chen Duxui (pendiri Partai Komunis Cina) pada tahun 1919. Maaf agak sok pintar sedikit, Judul/Nama maupun Tahun yang sulit diucapken dan dihapalken berikut aku culik dari Google, kok. Sebenarnya gagasan Revolusi Mental sudah lama di propagandakan Kaum Sosialis-Komunis di kawasan Eropa untuk mendobrak kungkungan ajaran agama. Karena menurut Karl Marx sendiri, dogmatisme yang salah tentang agama dianggap menghambat jalannya Revolusi. Di Indonesia sendiri istilah ini pernah dipakai oleh Ahmad Aidit yang kemudian mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit), Pimpinan Tertinggi PKI. DN Aidit sampai mengganti namanya dikarenakan alasan Revolusi Mental. Bagi Aidit, revolusi mental harus dimulai dengan mengganti hal-hal yang dianggap menghambat pergerakan, termasuk nama "Ahmad" yang berbau Islam.
Nah, cukup sudah penjelasan singkatnya. Sekarang yang jadi masalah adalah; Mengapa di Kubu Jokowi sangat menolak jika Revolusi Mental disebut sebagai gagasan atau ide yang sangat dekat sekali dengan Komunis???? Padahal intinya ya sama. Revolusi mental ya Revolusi mental! Perubahan cara berpikir, perubahan dari pribadi yang 'buruk' ke pribadi yang lebih 'baik', pembentukan karakter, dll. Okelah kalaupun Kubu Jokowi tidak mau mengakuinya, okelah kalau mungkin hanya ada kebetulan pada istilah yang sama tapi dengan penerapan dan artian yang berbeda. Aku bisa memakluminya. Yang pasti, konsep Revolusi Mental buatan Jokowi tidak ada apa-apanya dibanding Revolusi Mental Sosialis-Komunis yang sangat Ideologis dengan berdasar pada kerangka berpikir yang jauh lebih sistematik! Tapi kenapa Kubu Jokowi sampai menimbulkan kesan bahwa Revolusi Mental ala Bapaknya seakan-akan jauh diatas Revolusi Mental Sosialis-Komunis? Yang seakan-akan malah jijik dan menolak dengan tegas jika didekatkan dengan dasar-dasar pemikiran Sosialis-Komunis? Di Kubu Prabowo pun juga demikian. Menuduh kubu lawan dengan tuduhan bahwa Revolusi Mental Jokowi adalah suatu gagasan yang berkeinginan untuk mengikuti, menyebarluaskan, dan membangunkan lagi paham Sosialis-Komunis di Indonesia. Pertanyaannya, SEHINA ITUKAH SOSIALIS-KOMUNIS DIMATAMU, WAHAI BAPAK-BAPAKKU? ATAU KEBANGKITAN SOSIALIS-KOMUNIS TERLALU MEMBAHAYAKAN BAGI KEPENTINGAN-KEPENTINGANMU DI NEGERI INI, PAK? Oke, jangan salahkan aku kalau kusebut Revolusi Mental-mu tak lebih dari Revolusi Dangkal! Impas. Ternyata doktrin-doktrin Penguasa di era 'kegelapan' masih efektif sampai pada detik ini, bahkan di kalangan para elit politik! Selama dominasi Neo-Kolonialisme dan Neo-Imperialisme masih tumbuh subur di Negeri ini, selama itu pula nasib kebenaran akan senantiasa disalahkan.
Aku rasa cukup sampai disini dulu. Terlalu banyak paragraf sungguhlah tidak efektif untuk dibaca di sela-sela jam ngopi. Sampai ketemu dilain tulisan, temanku. Salam buat keluarga.
Salamku,
Sama rata sama rasa!
(AS)
Photo by Tri Joko, Civil Engineer, Photographer, Yokyakarta, Indonesia