26 Jan 2014

KOPI SEBAGAI BUDAYA BANGSA

Share on :
 

Jika Anda kritis, bolehlah sekiranya diwaktu senggang, sisihkan seper - sekian menit untuk menghitung jumlah warung kopi di daerah yang Anda huni sekarang. Berapa? Dimana saja? Sudah familiar kah Anda dengan tempat dan segala 'makhluk' yang saban hari menginvasi tanah berwujud petak persegi tersebut? Sudah, jangan serius menghitung. Nanti malah terlalu mengindikasikan bahwa sebenarnya kita termasuk sebagian kecil dari sebagian besar Pengangguran yang terlalu di - angggur - kan oleh Negara, hahaha. Sudah tentu banyak. Dari jumlah, warna, dan rupanya (bukan lirik lagu Balon - ku).

Ya, inilah salah satu dari kekayaan budaya yang tidak pernah kita sortir. Bahkan media pun jarang mengeksposnya (lah lapoooooo). Atau bahkan Anda sendiri pernah mencermatinya? Menemukan ilham disana? atau mengadakan observasi untuk selembar tugas kuliah tentang 'Kulturalisasi Budaya Di Warung Kopi'? Jika benar demikian, maka berbahagialah, berbanggalah. Anda telah mengantongi dan sukses menyadur berbagai macam Ilmu disana --- bukan Ilmu Silat pastinya. 

Dengan pencermatan yang baik serta didukung filteralisasi Humanism, maka Anda akan menemukan beberapa Fakta yang mencengangkan olehnya! Tentang Dramatika Sosial, Budaya, Politik, Cara Hidup, Kenakalan Remaja, Kenakalan Orang Tua, Pandangan Sederhana, bahkan sampai curhatan urusan Rumah Tangga. Oh syahdunya...

Memang, pada awalnya tidak banyak yang menaruh hati pada segelas minuman berperawakan hitam nan pahit ini --- kecuali bagi para pecinta Estetika Seni dan Rasa. Namun, dalam pada itu, distorsi sosial - lah yang membuat Kita memuja karenanya (alaaah berlebihan iki). Realita hidup yang PAHIT, kapitalisme yang semakin PEKAT, terjebak rutinitas yang semakin hari senantiasa bertambah GELAP, gerak kurva rupiah yang tak pernah bosan membuat anggaran rumah tangga semakin PANAS, ditambah dengan masa depan Pemilu 2014 yang terlampau HITAM! Dengan pelan membiasakan Kita untuk menelan sifat - sifat Kopi yang demikian adanya. Tanpa disadari, kita telah akrab dengan segala kepahitannya. Ini adalah cerminan wajar dari apa yang kita hadapi sehari - hari. Tanpa sengaja pun kita telah memilih suguhan apa yang layak untuk kepribadian Indonesia, cangkir seperti apa yang pantas untuk disajikan, takaran pahit seperti apa yang kita ingini. Ya, Secangkir Kopi jawabannya. Kita tidak pernah memilih Kopi, Kopi sendiri yang telah memilih lidah kita.

Bicara soal rasa, Saya yakin setiap individu pasti memiliki komposisinya masing - masing (sifat dasar manusia ya, hehehe). Kalo selera setiap manusia sama, yang dikhawatirkan nanti pada saat memilih pasangan pun juga sama. Euforia Poligami pasti akan kembali marak, hahaha. Secara tidak langsung perbedaan lah yang menyelamatkan masing - masing pasangan kita (uopooooh seh iki).

Hitam Pekat Dengan Ampas Tebal Serta Rasa Yang Super Pahit 

Tipe selera jenis ini biasanya memiliki kepribadian yang super kuat. Kuat susah, kuat sakit, kuat miskin, kuat mental, pun kuat juga jika diajak berpikir. Tapi maaf, kalo urusan kuat di ranjang jangan ditanya. Saya juga belum seberapa tau. Kapan - kapan pasti saya tanyakan kepada yang bersangkutan (kalo pas lagi mabuk)

Pecinta komposisi jenis ini juga paling terampil dalam soal 'Menjelek - jelekkan Pemerentah Yang sudah Jelek'. Mungkin juga karena mereka telah merasakan cukup lama akan getirnya hidup. Yang manisnya jarang mereka jumpai. (#Np Gugur Bunga *soundtrack*)

 
Hitam Pekat Dengan Ampas Tebal Tapi Agak Sedikit Manis, atau Bahkan Manisnya Berlebihan

Manusia jenis ini pada dasarnya sama dengan karakter dan sifat - sifat diatas. Tidak jauh berbeda. Yang sedikit membedakan adalah sifat Manusiawi - nya yang memaksa untuk sedikit banyak menjadi Individu yang mengagumi kecantikan, keindahan, eksotika --- dari lawan jenisnya. (biasanya loh ya, nggak tau lagi kalo nggak biasanya)
 
Hitam, Encer, Manis Sekali 

Yang satu ini banyak sekali mencerminkan kehidupan sosial muda - mudi jaman sekarang. Yang masih atraktif dengan Glamourisme - nya, dengan segala peruntungan masa muda yang tidak dapat diperoleh ketika hari tua di depan mata. "Yaaaaa wajar lah, namanya juga Masih Muda" (sahut Tukang Becak roda 5 di seberang jalan).

Hitam, Encer, Pahit
 
Kemungkinan besar Si Pemesan mengidap KENCING MANIS. Sudah. Cukup. Titik.

Kopi Sachet - an
 
Nah! Jenis ini biasanya berwujud sekumpulan pemuda yang tidak mempunyai niatan Ngopi dari lubuk hati yang paling dalam tapi malah kecantol di Warung Kopi. Dikarenakan beberapa sebab. Diantaranya; berteduh karena hujan, iseng, nunggu jemputan, nunggu pacar, nunggu mantan lewat, nunggu tutup usia. Serta penganut paham setia Instanisme dan Praktisisme. (iyo'ono wae, Mas) 


Pertanyaannya, masuk selera jenis Kopi yang bagaimana kah Anda? Silahkan dijawab di Khotbah Jum'at minggu depan.

Oke tjoy, sementara sampai sini dulu. Kapan - kapan dilanjut lagi postingan tentang macam - macam Jenis Kopi - nya. Sambil nunggu kemunculan Kopi dan Manusia jenis terbaru, hahaha.
Tetaplah bangga akan Budaya Nusantara, Indonesia! (AS)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar