Dengan hormat saya memohon. Bacalah artikel ini dalam kondisi syahwat yang tidak seberapa tegang, bola mata menguning, tingkat kemiringan otak menunjukkan pukul dua searah jarum jahit, bibir menebal, alis tipis sebelah, dan yang terakhir sempatkan bercakap sedikit dengan pasangan, lalu berbisiklah: "Dik, jangan ada dusta diantara aku, kamu, dan teman dekatku."
Oke, kalau semua sudah Anda lakukan sesuai petunjuk, maka saya pun yakin bahwa Anda sekarang sedang berada dalam saat-saat paling manis semasa hidup. Dan terimakasih, Anda sudah menjadi pribadi yang penurut :)
Tapi jika Anda melewati peraturan-peraturan diatas, maka celaka-lah saya. Karena Anda akan membaca menggunakan akal sehat dan kemungkinan untuk menemukan kebodohan-kebodohan yang hampir keseluruhan tertulis bodoh dalam artikel ini pun terbuka lebar! Ha ha ha. Selamat membaca.
"Hari ini, siapa Anda?" Ya, pertanyaan yang memang terlampau sederhana. Bahkan seorang anak kecil yang belum pernah lahir pun mampu menjawab dengan posisi bibir tersumbat bungkus Rinso -bagi yang merasa brandnya disebut, segera kirim beberapa lembar ke rekening saya sebagai imbalan biaya sponsor, ditunggu- Nah, tapi pernahkan, benarkah, atau apakah Anda pernah menjawabnya dengan jujur? Yang dimaksud 'siapa' disini bukan berarti 'siapa nama Anda' tapi lebih menunjuk ke 'siapa, apa, dan bagaimana pribadi Anda sekarang'. Apakah pribadi Anda adalah bentukan dari pola Anda sendiri? Atau bentukan dari orang tua? Dari lingkungan sekitar? Kalau Anda berada diantara salah satu faktor pembentuk tersebut maka layaklah anda berbahagia :) Anda masih termasuk dalam golongan manusia waras dan dilindungi penuh oleh Negara.
Di sisi lain, bagaimana jika saya maupun Anda adalah pribadi-pribadi yang dibentuk secara sengaja (kebanyakan tanpa kita sadari) atas kehendak propaganda media? Demi tujuan-tujuan tersamar yang pada dasarnya akan berujung pada praktek elit kapital dan diperolehnya keuntungan sepihak! Bagaimana? Hayo bagaimana? Hayo...
Contoh sederhananya misal seperti ini;
Dari kecil kita telah banyak dijejali oleh film-film bertemakan Valentine atau film-film 'pembunuhan ranjang' lainnya (biasa disebut Palentenan -- oleh orang pribumi). Tanpa sadar saat sudah beranjak dewasa, kita mulai terbawa oleh alur dan maksud yang dipaparkan dengan jelas pada film tersebut. Secara terang-terangan kita ikuti budaya yang kita sendiri tidak seberapa tahu asal-usulnya. ("POKOK'E KEREN, BOS!", celatuk supir becak kopling 4WD di seberang jalan). Tapi tahukah Anda bahwa tradisi yang demikian itu merupakan salah satu bentuk dari Paganisme? Dari cerita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasih sayang dan sengaja dibelokkan untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Singkatnya, sudah jelas untuk kepentingan dunia hiburan, pabrik-pabrik sokelat, atau bahkan persewaan ranjang! Khusus untuk point yang terakhir ini saya kira tidak jadi masalah. Namanya juga kebutuhan, Kas. Ha ha ha.
Untuk pribadi yang seperti ini, saya tidak berani memaparkan contoh yang lebih banyak lagi. Alasannya tentu saja, takut banyak yang tersinggung. Silahkan Anda tengok kanan-kiri, saya rasa contohnya banyak ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan maupun pusat-pusat hiburan di kota Anda masing-masing. Dengan keunikan dan keanehan serta tingkah laku yang tidak dimiliki umat Tuhan pada umumnya.
Lalu, satu contoh lagi. Agak berbeda dengan pribadi diatas. Disini, Si Manusia lebih memilih untuk memeluk erat Ideologinya. Tidak sedikit pun terpengaruh dengan apa yang sedang menghujani lingkungan sekitarnya. Bertubi-tubi menangkis serangan peluru kapital dan liberalis dengan senjata yang dimiliki, senjata satu-satunya. "Ya, cuma satu. Cuma satu yang bisa menyelamatkanmu", sorak pemuda itu. Dia menamainya dengan sebutan, Idealisme.
Sampai disini saya masih belum puas, masih belum paham dengan apa yang di selipkan pemuda itu diantara kata-katanya yang saling bersinambung. Tanda tanya besar masih asyik saling menarik di jembatan penghubung kedua pangkal paha. Saya beranikan sekali lagi untuk datang, bertemu, dan bertanya. Tentu saja dengan hanya bermodal seliter bensin yang saat itu masih bermahar lima ribu rupiah dan selembar foto Ibu yang terselip di saku dompet. Dompet Bapak, Ha ha ha.
Saya bertanya tentang apa yang telah dia peroleh dari ke-Idealis-annya tersebut. Tentang apa manfaatnya, dan perubahan signifikan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Dia memberikan jawaban dengan singkat. "Belum, belum ada sama sekali". "Kenapa? Apa senjata Anda tidak ampuh?", sahut saya. "Ampuh, saya yakin ampuh. Dan saya bangga menjadi seperti ini. Hanya perkara waktu yang masih belum tepat".
Saya bertanya lagi, saya pastikan untuk menjadi pertanyaan yang terakhir, "Anda seorang idealis kan? Anti kapital dan sejenisnya? Sangat membenci liberalis ya? Lalu, apakah Anda punya handphone? Merk apa? Masih pakai celana kan? Buatan mana? Oh ya, suka makan mie instan nggak? Sering minum softdrink juga? Terus kalau mandi pakai sabun atau digosok pakai parutan? Biasa ngisi bensin di pom apa ngebor sendiri mas? Akun Facebooknya apa? Pasti punya kan? PC-nya keren mas, userinterface-nya kalem, produk Microsoft sekarang bagus-bagus ya?, Ahaaa suka foto-fotoan sama pacar ya? Ngonix di Mall mana itu mas?" Doorrr! Semua dijawab dengan lancar, tanpa ragu sedikitpun. Tanpa sadar bahwa semua telah dilakukannya sesuai dengan apa yang kapital dan liberal agendakan. Dari sini saya mencoba untuk asal-asalan menarik kesimpulan. Karena pada dasarnya memang ini tidak lebih dari artikel asal-asalan dari manusia asal-asalan yang sedang berpura-pura asal-asalan untuk menutupi ke-asal-asala-an yang sesungguhnya memang asal-asalan, Ha ha ha.
Jadi, ini pendapat saya:
Pemuda itu tidak sekalipun salah! Saya mempertaruhkan kebenarannya atas nama Hakim Roda Mas! Saya salut, salut atas apa yang telah dipilihnya, salut karena telah memilih 'Idealis' sebagai kompas di masa muda, salut karena dia telah lahir sebagai satu dari segelintir manusia yang tidak menghanyutkan dirinya dalam gelombang mainstream. Tapi apalah daya, segelintir manusia itu pun tak akan mampu membentengi dirinya dari serangan-serangan produk kapital yang sudah mengakar beratus-ratus tahun lamanya itu. Meskipun di pihak negara kita -yang sering disebut dengan: Indonesia- pengaruhnya masih baru masuk sekitaran tahun 68'an.
Terlalu kuat untuk dilawan. Ya, terlalu kuat! Mereka sudah menyebar mafia-mafia dan inteligent sendiri pada setiap sektornya. Lalu, apa yang seharusnya Seorang 'Idealis' lakukan? Lakukanlah itu pada diri anda sendiri. Tancapkanlah pada lingkungan anda. Jangan sekalipun berpikiran untuk 'merubah'. Terlalu sulit! 'Belokkan' saja dulu sedikit demi sedikit. Terdengar sulit memang. Tapi terkesan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Lepas dari itu, memang sudah tidak ada jalan lagi :)
Jadi, siapa Anda? Pilihlah suka-suka. Jangan terlalu serius. Pertanyaan seperti ini tidak akan mungkin keluar pada waktu Ujian Negara. Sebagai himbauan, sebelum Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, ada baiknya sruput dahulu kopi hitam diatas meja. Walaupun hasil hutang tapi rasanya tetap sama kan? Nah, setelah itu, TANYAKAN! (AS)
Oke, kalau semua sudah Anda lakukan sesuai petunjuk, maka saya pun yakin bahwa Anda sekarang sedang berada dalam saat-saat paling manis semasa hidup. Dan terimakasih, Anda sudah menjadi pribadi yang penurut :)
Tapi jika Anda melewati peraturan-peraturan diatas, maka celaka-lah saya. Karena Anda akan membaca menggunakan akal sehat dan kemungkinan untuk menemukan kebodohan-kebodohan yang hampir keseluruhan tertulis bodoh dalam artikel ini pun terbuka lebar! Ha ha ha. Selamat membaca.
***
"Hari ini, siapa Anda?" Ya, pertanyaan yang memang terlampau sederhana. Bahkan seorang anak kecil yang belum pernah lahir pun mampu menjawab dengan posisi bibir tersumbat bungkus Rinso -bagi yang merasa brandnya disebut, segera kirim beberapa lembar ke rekening saya sebagai imbalan biaya sponsor, ditunggu- Nah, tapi pernahkan, benarkah, atau apakah Anda pernah menjawabnya dengan jujur? Yang dimaksud 'siapa' disini bukan berarti 'siapa nama Anda' tapi lebih menunjuk ke 'siapa, apa, dan bagaimana pribadi Anda sekarang'. Apakah pribadi Anda adalah bentukan dari pola Anda sendiri? Atau bentukan dari orang tua? Dari lingkungan sekitar? Kalau Anda berada diantara salah satu faktor pembentuk tersebut maka layaklah anda berbahagia :) Anda masih termasuk dalam golongan manusia waras dan dilindungi penuh oleh Negara.
Di sisi lain, bagaimana jika saya maupun Anda adalah pribadi-pribadi yang dibentuk secara sengaja (kebanyakan tanpa kita sadari) atas kehendak propaganda media? Demi tujuan-tujuan tersamar yang pada dasarnya akan berujung pada praktek elit kapital dan diperolehnya keuntungan sepihak! Bagaimana? Hayo bagaimana? Hayo...
Contoh sederhananya misal seperti ini;
Dari kecil kita telah banyak dijejali oleh film-film bertemakan Valentine atau film-film 'pembunuhan ranjang' lainnya (biasa disebut Palentenan -- oleh orang pribumi). Tanpa sadar saat sudah beranjak dewasa, kita mulai terbawa oleh alur dan maksud yang dipaparkan dengan jelas pada film tersebut. Secara terang-terangan kita ikuti budaya yang kita sendiri tidak seberapa tahu asal-usulnya. ("POKOK'E KEREN, BOS!", celatuk supir becak kopling 4WD di seberang jalan). Tapi tahukah Anda bahwa tradisi yang demikian itu merupakan salah satu bentuk dari Paganisme? Dari cerita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasih sayang dan sengaja dibelokkan untuk tujuan dan kepentingan tertentu. Singkatnya, sudah jelas untuk kepentingan dunia hiburan, pabrik-pabrik sokelat, atau bahkan persewaan ranjang! Khusus untuk point yang terakhir ini saya kira tidak jadi masalah. Namanya juga kebutuhan, Kas. Ha ha ha.
Untuk pribadi yang seperti ini, saya tidak berani memaparkan contoh yang lebih banyak lagi. Alasannya tentu saja, takut banyak yang tersinggung. Silahkan Anda tengok kanan-kiri, saya rasa contohnya banyak ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan maupun pusat-pusat hiburan di kota Anda masing-masing. Dengan keunikan dan keanehan serta tingkah laku yang tidak dimiliki umat Tuhan pada umumnya.
Lalu, satu contoh lagi. Agak berbeda dengan pribadi diatas. Disini, Si Manusia lebih memilih untuk memeluk erat Ideologinya. Tidak sedikit pun terpengaruh dengan apa yang sedang menghujani lingkungan sekitarnya. Bertubi-tubi menangkis serangan peluru kapital dan liberalis dengan senjata yang dimiliki, senjata satu-satunya. "Ya, cuma satu. Cuma satu yang bisa menyelamatkanmu", sorak pemuda itu. Dia menamainya dengan sebutan, Idealisme.
Sampai disini saya masih belum puas, masih belum paham dengan apa yang di selipkan pemuda itu diantara kata-katanya yang saling bersinambung. Tanda tanya besar masih asyik saling menarik di jembatan penghubung kedua pangkal paha. Saya beranikan sekali lagi untuk datang, bertemu, dan bertanya. Tentu saja dengan hanya bermodal seliter bensin yang saat itu masih bermahar lima ribu rupiah dan selembar foto Ibu yang terselip di saku dompet. Dompet Bapak, Ha ha ha.
Saya bertanya tentang apa yang telah dia peroleh dari ke-Idealis-annya tersebut. Tentang apa manfaatnya, dan perubahan signifikan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Dia memberikan jawaban dengan singkat. "Belum, belum ada sama sekali". "Kenapa? Apa senjata Anda tidak ampuh?", sahut saya. "Ampuh, saya yakin ampuh. Dan saya bangga menjadi seperti ini. Hanya perkara waktu yang masih belum tepat".
Saya bertanya lagi, saya pastikan untuk menjadi pertanyaan yang terakhir, "Anda seorang idealis kan? Anti kapital dan sejenisnya? Sangat membenci liberalis ya? Lalu, apakah Anda punya handphone? Merk apa? Masih pakai celana kan? Buatan mana? Oh ya, suka makan mie instan nggak? Sering minum softdrink juga? Terus kalau mandi pakai sabun atau digosok pakai parutan? Biasa ngisi bensin di pom apa ngebor sendiri mas? Akun Facebooknya apa? Pasti punya kan? PC-nya keren mas, userinterface-nya kalem, produk Microsoft sekarang bagus-bagus ya?, Ahaaa suka foto-fotoan sama pacar ya? Ngonix di Mall mana itu mas?" Doorrr! Semua dijawab dengan lancar, tanpa ragu sedikitpun. Tanpa sadar bahwa semua telah dilakukannya sesuai dengan apa yang kapital dan liberal agendakan. Dari sini saya mencoba untuk asal-asalan menarik kesimpulan. Karena pada dasarnya memang ini tidak lebih dari artikel asal-asalan dari manusia asal-asalan yang sedang berpura-pura asal-asalan untuk menutupi ke-asal-asala-an yang sesungguhnya memang asal-asalan, Ha ha ha.
Jadi, ini pendapat saya:
Pemuda itu tidak sekalipun salah! Saya mempertaruhkan kebenarannya atas nama Hakim Roda Mas! Saya salut, salut atas apa yang telah dipilihnya, salut karena telah memilih 'Idealis' sebagai kompas di masa muda, salut karena dia telah lahir sebagai satu dari segelintir manusia yang tidak menghanyutkan dirinya dalam gelombang mainstream. Tapi apalah daya, segelintir manusia itu pun tak akan mampu membentengi dirinya dari serangan-serangan produk kapital yang sudah mengakar beratus-ratus tahun lamanya itu. Meskipun di pihak negara kita -yang sering disebut dengan: Indonesia- pengaruhnya masih baru masuk sekitaran tahun 68'an.
Terlalu kuat untuk dilawan. Ya, terlalu kuat! Mereka sudah menyebar mafia-mafia dan inteligent sendiri pada setiap sektornya. Lalu, apa yang seharusnya Seorang 'Idealis' lakukan? Lakukanlah itu pada diri anda sendiri. Tancapkanlah pada lingkungan anda. Jangan sekalipun berpikiran untuk 'merubah'. Terlalu sulit! 'Belokkan' saja dulu sedikit demi sedikit. Terdengar sulit memang. Tapi terkesan lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Lepas dari itu, memang sudah tidak ada jalan lagi :)
Jadi, siapa Anda? Pilihlah suka-suka. Jangan terlalu serius. Pertanyaan seperti ini tidak akan mungkin keluar pada waktu Ujian Negara. Sebagai himbauan, sebelum Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, ada baiknya sruput dahulu kopi hitam diatas meja. Walaupun hasil hutang tapi rasanya tetap sama kan? Nah, setelah itu, TANYAKAN! (AS)


Tidak ada komentar :
Posting Komentar