Majalah Asian Geographic edisi 6 tahun 2011 memuat sebuah artikel menarik tentang Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya. Edisi tersebut bertema Arsitektur Asia. Berikut adalah ringkasan artikel tersebut dengan tambahan foto-foto dari KITLV.

Sebuah hotel di Tunjungan menjadi saksi sejarah sebuah bangsa. Ketika penjajahan Jepang berakhir "the good old days" di benak orang Belanda tidak menjadi kenyataan. Surabaya kembali dibanjiri para eks tawanan perang Belanda. Administrasi Belanda The Anglo Dutch Country Section Office menempati kantor darurat di kamar no. 33 Hotel Yamato. Di ruang inilah seorang pemuda nasionalis, Roeslan Abdulgani berkonfrontasi dengan petugas Belanda. Ketika bendera Belanda dikibarkan di atas hotel pada tanggal 19 September 1945, setengah jam kemudian para pemuda Surabaya yang emosional merobek sisi biru bendera itu menjadi bendera merah putih. Kreasi bendera ini menjadi awal dari The Battle of Surabaya. Tentara Inggris di datangkan untuk menertibkan Surabaya. Peristiwa inilah yang membuat Surabaya bergela Kota Pahlawan. Hotel Merdeka, itulah nama panggilan hotel ini pada bulan September 1945. Tapi tiga puluh lima tahun sebelumnya. Berikut ini kisahnya.

Sebuah keluarga yang berkecimpung dalam perhotelan, The Sarkies Family mengawali kisah Hotel Majapahit. Martyrose "Ter" Martin Sakies memiliki dua putra yang memulai bisinis di Jawa Timur, Aratton yang sulung dibantu adiknya, Lucas Martin memulai bisnis eceran di Malang tahun 1887. Lucas berhasil memiliki sebuah toko di Tunjungan Surabaya ketika ide mendirikan hotel bergaya Art Nouveau yang diimpikannya mendapat kesempatan. Dia membeli sebidang tanah di sebelah tokonya seluas 1000 meter persegi dan membangun hotel impiannya. Peletakan batu pondasi pertama di depan ruang resepsi adalah putranya yang baru berusia 7 tahun, Eugene.

1 July 1911 Hotel Oranje yang didesain oleh arsitek Belanda, J. Afprey diresmikan. Masa keemasan dimulai, bisnis berjalan baik bahkan sepertinya tidak terpengaruh oleh Depresi besar maupun Perang Dunia I. Tahun 1923 dan tahun 1926 hotel diperluas. Ketika trend art deco menjamur di dunia, Martin Lucas memutuskan untuk merobohkan menara kembal hotelnya dan membangun bangunan bergaya art deco sebagai sisi depan hotelnya. Itu tahun 1936, dua puluh lima tahun kemudian bersamaan dengan peringatan perak, hotel Oranje mengundang pejabat Eropa untuk datang.

Masa kelam berawal ketika Lucas Martin wafat tahun 1941 dan tahun 1942 Jepang mengambil alih hotel ini untuk barak tentara dan kamp tahanan untuk wanita dan anak-anak Belanda yang menunggu direlokasi. Hotel ini kemudian diberi nama Hotel Yamato. Istri Lucas meninggal pada masa pendudukan dan Eugene meneruskan kembali hotel setelah Jepang angkat kaki. Hotel LMS singkatan dari Lucas Martin Sarkies.

19 Januari 1996 setelah menginvestasikan biaya US$ 35 million untuk restorasi, Hotel Majapahit dibuka kembali. Daftar tamu yang pernah menginap tidak kurang dari para pemimpin negara: menambah daftar panjang para tamu di masa "The Good Old Days". Joseph Conrad, novelis terkenal itu pun sempat menulis kesan atas Hotel Oranje ketika berkunjung ke Surabaya.
NB: Artikel asli berbahasa Inggris jauh lebih menarik dari ringkasan singkat yang kaku diatas. Jangan lewatkan untuk membaca sendiri artikel dalam majalah tersebut.
Surabaya Tempo Dulu.









Tidak ada komentar :
Posting Komentar