Apa kabar, Sodaraku? Lama sudah aku diterpa kemacetan pena yang tiada habisnya. Maklum, pena buatan **** memang sering tak panjang umur. Terhitung sudah hampir tiga bulan ini berhenti menulis, terlalu naif ya. Tapi apalah daya, ide tak bisa dipaksakan, dalam hal ini agak sama dengan urusan asmara; tak bisa dipaksakan.
Sampai pada suwatu suwa'at; mataku terbelalak, bulu hidungku merinding bukan main, resletingku tersingkap, dadaku berdesir kencang dengan kecepatan 65MB! Saat kutemui sederet bacaan lama di folder PC ringkih yang sengaja kuberi nama 'Bukaaaa aku, Mas'. Dengan sekali klik, kudapati disitu satu baris kalimat yang kira-kira bunyinya seperti ini:
"Kusaksikan kalian yang masih muda tidak punya keberanian untuk menentang kesewenang-wenangan. Yang kalian lakukan tidak seimbang dengan penderitaan rakyat yang sudah melampaui batas. Kupikir tulisan-tulisanku sudah cukup bisa mendorong kalian untuk melakukan tindakan, tapi ternyata aku keliru".Serentak aku berdiri dari posisi favoritku saat itu juga (seperti apa detail posisinya tidak seberapa penting untuk kujelaskan disini) Kuambil cermin kecil, atau lebih tepat jika kunamai spion, kuamati dengan cermat, menjauh, mendekat, menjauh lagi, mendekat lagi, ku ulangi hingga beberapa kali. Ya, sampai kudapati disitu, di seberang pantulan spion: 'AKU YANG TIDAK MELAKUKAN APA-APA'. Andai Beliau masih hidup, seberani apa aku bisa berdiri didepannya? Sejauh mana aku bisa kabur dari tatap tajam matanya? Sang pemilik kalimat tadi, TAN MALAKA. Salah seorang Idolaku. Miris bukan main dilemaku kali ini! Aku malu.
Untuk menebus kemaluanku tersebut -'kemaluan' disini bukan berarti 'manuk', melainkan arti 'malu' secara harfiah- kucoba dengan mulai menulis lagi, memancing gejolak dan gelora muda teman-teman sebayaku, membuat gerakan-gerakan kecil, yang setidaknya memberiku keberanian untuk bertatap muka lagi dihadapan spion! Oke, cukup sudah basa-bashitnya. Untuk intro, kumulai dengan merangkum cerita-cerita, fakta, mitos, atau bahkan dongeng yang ikut meramaikan Pertiwiku kali ini. Kuberi judul; Juni, di Negeriku.
Jujur, sebenarnya sangat sulit sekali bagiku untuk menentukan harus mulai nggedabrus dari bagian yang mana dulu. Bulan ini terlalu menarik jika diceritakan dalam format dongeng, terlalu kolosal untuk digambarkan dalam bentuk drama intrik retorika para remaja, ah tapi juga terlalu unik bilamana dirangkum dan diceritakan dalam bentuk fakta -atau yang dewasa ini biasa disebut dengan 'Berita Aktual, Tajam, dan Terpercaya'- karena dijaman sekarang fakta dan cerita hanya ditulis dan diberitakan oleh Pemenang! Lalu, dimana fakta berada? Kepada siapa kita harus percaya? Temanku, jika muncul pertanyaan seperti itu pada celah-celah rongga otakmu, lagi-lagi hadapkanlah dirimu dengan spion! Bertanyalah pada diri sendiri. Karena memang 'keadaan sebenarnya' hanya bisa diperoleh dari sudut pandang pemikiran pribadi. Jangan pernah sekalipun untuk bertauhid kepada media-media yang sekarang banyak bertebaran diseluruh pelosok negeri. Mereka bukan Bos/Atasan-mu ditempat kerja, yang mau tak mau pun harus dibenarkan segala ucap yang keluar dari mulutnya. Oke, Bos selalu benar, tapi tidak untuk media! Tetaplah mengolah ulang setiap informasi yang dipaksa masuk ke kepala. Kita bukan boneka sex yang musti pasrah, kan? Pasang filter, kritisi sedikit, lambat laun kebenaran dan 'keadaan sebenarnya' akan mulai terbuka pada bagian otak kiri. Jika sudah sampai pada tahap ini, maka percayalah dengan argument dan penilaian dari diri sendiri. Soal predikat salah atau benar maupun substansi keabsahan dari argument kita, itu urusan belakang! Bukankah kita sudah satu tingkat lebih hebat dibanding 'mereka' yang masih tercuci otaknya? Yang masih menjadi wayang-wayang media? Hehe, mari bersyukur. Percaya pada diri sendiri, atau jika masih punya Tuhan maka kalimatnya harus kuralat menjadi demikan: "Aku sudah benar, dan Tuhan membenarkan".
Uhuk, Sudah cukup ya ngelanturnya. Sebagai pengagum fanatik dari Sila ke-5, akan kumulai kumpulan kalimat-kalimat yang kutulis dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layaaaang... Ahaaaaha mabooook! --- Versi seriusnya: Akan kumulai kumpulan kalimat-kalimat yang kutulis dan kutimbang dari sudut pandang kacamataku sendiri, bukan dari media manapun. Baik, kumulai dengan; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sudah hampir dua pekan, deras kabar yang beredar bahwa adanya suatu Ormas atau Golongan tertentu yang dengan sikap separatisnya sudah sedikit mencoreng kondisi Sosial serta Keadilan di Negeri ini. Dan dengan sangat jelas kita mengetahui bagaimana sepak terjang mereka dengan mata kepala sendiri. Bagaimana? Hebat bukan main, kan? Jika boleh kusebutkan namanya disini, maka dengan sikap bijak tiada tara akan ku sensor sedemikian rupa hingga sulit untuk dibaca. Seperti ini -> F*P*I.
Aku tidak bermaksud untuk memojokkan salah satu golongan. Hanya sedikit memaparkan atas apa yang kulihat dan berdasarkan penilaian pribadi, maupun obrolan-obrolan ringan dari teman-teman seperjuangan di warung kopi. Karena pada dasarnya semua akan terpojok pada waktunya, akan terpojok dengan sendirinya. Apalagi dengan tetap mempertahankan 'attitude' yang sepertinya sangat mereka banggakan. Merujuk pada 'Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia', aku kira apa yang mereka ingini masih ditunggangi oleh ego-ego yang tidak bisa didebat. Kita sebagai Negara yang besar! Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berangkat dari Sabang sampai Merauke. Dengan beragam Suku, Agama, Ras, Budaya, Golongan, Ideologi, ah banyak lah pokoknya. Sangat disayangkan sekali rupanya mereka belum cukup paham betul atas Dasar Negara tersebut. Tidak satu pemikiran, libas! Tidak satu tujuan, hajar! Merugikan bagi kepentingan Golongan/Agamanya, bakar! Loh loh loh, lantas dimana letak Keadilan Sosial? Itu namanya hanya memberatkan Golongan yang tidak dikehendaki dan mengangkat Golongan yang dikendaki saja! Adil? Tidak. Negeri ini sedang menuju Perang Saudara walaupun masih dalam skala kecil, tapi kalau dibiarkan? Besar. Sedikitpun aku tidak menghendaki. Akan ku protes keras! Sebisaku, dengan segala caraku sendiri. Meskipun disini aku paham, #AkuIsokOpo. Ada satu yang tidak kusukai dari puluhan atau bahkan ratusan dari lembar skenario-skenario mereka; Mengatasnamakan AGAMA.
Maaf, ini bukan soal SARA atau apalah namanya. Aku tidak dan bukan salah seorang yang Anti-Agama. Tapi disini kupikir penempatannya yang kelewat keliru, menurut kacamataku sendiri. Mereka tempatkan 'atas nama Agama' diatas kepentingan hukum-hukum dan dalil-dalil yang mereka buat. Dengan seenak udel mereka tuding ini salah, itu salah, begitu salah, begini salah. Dengan hanya bermodal satu deret kalimat yang menjadi acuan, dasar, dan tameng dari setiap pergerakan-pergerakan mereka: "MENURUT ISLAM, YANG BEGITU ITU TIDAK BENAR". Nah, tapi kesannya kok malah menurut mereka sendiri ya? Atau cuma perasaanku? Aduh aku galaaaauuuu.
Jika boleh kuangkat dan kucocokkan dengan salah sepenggal kalimat dari Karl Marx, salah seorang Idolaku juga, yang kupikir sedang cocok dengan situasi sekarang ini. Beliau pernah berdalil: "Agama adalah candu"
Begini temanku, ku ulangi sekali lagi apa yang menjadi acuan dan dasar mereka untuk berbuat demikan. "MENURUT ISLAM, YANG BEGITU ITU TIDAK BENAR" - Lantas dari hati yang paling dalam sedalam kenangan bersama Mbak Mantan, ingin ku lontarkan kalimat balik. Yang kira-kira bunyinya: "MENURUT SAYA, PEMAHAMAN ANDA TENTANG 'ISLAM' ITU SENDIRI YANG BELUM BENAR!" Bagaimana? Sependapat tidak? Memang kurang lebih kupikir demikian kiranya. Aku sendiri beragama Islam, walaupun bukan/belum sampai menjadi Islam yang tulen. Tapi sedikit banyak aku paham bagaimana Islam mengajarkan kita tentang hidup dalam keberagaman, tentang adanya perbedaan pandangan, tentang cara bermusyawarah untuk mencapai mufakat, bukan dengan kekerasan! Kekerasan hanya dianjurkan jika dalam situasi yang sangat genting atau terdesak, seperti pada saat perang misalnya. Bukan malah dijadikan senjata dan satu-satunya cara yang patut digunakan seperti sekarang ini. Dengan cara apapun dan bagaimanapun mereka akan tetap kokoh dengan pemahamannya tentang Islam. Kadang, aku punya beberapa pertanyaan kecil yang meletup-letup. Dalam hal ini, contohnya seperti; "Siapa yang mengajarkan mereka tentang doktrin-doktrin yang kelewat miring seperti itu? Darimana asal muasalnya?" Namun cukup sering pertanyaan-pertanyaan kecil semacam ini akan ku label-i sendiri dengan judul 'pertanyaan tak berjawab'. Yang aku tau, Islam adalah Agama yang menjunjung tinggi Keadilan sosial! Islam adalah Agama yang menjunjung tinggi Demokrasi dan Kemanusiaan! Bahkan tidak hanya Islam. Agama A, Agama B, C, D, dan seterusnya pun ku pikir juga akan bergagasan sama dalam hal ini. Yang perlu di ingat, SEMUA AGAMA PASTI DAN AKAN SELALU MENGAJARKAN KEDAMAIAN DISETIAP AJARAN-AJARANNYA. Bukan begitu? Jadi, marilah saling menghargai. Tak perlu lah menitik-beratkan sebelah diatas setumpuk kepentinganmu.
Ada lagi Sub-masalah yang masih patut ku tulis juga disini. Jika bicara soal Keabsahan dan Kebenaran Agama, siapa yang berani mendebat? Aku pun harus berpikir 212 kali untuk mampu menyatakan 'berani' atau 'tidak' dalam soal ini. Yang pada ujung-ujungnya tetaplah pada kesimpulan: Aku tak berani. Siapa yang berani mendebat Tuhan? Ampun.
Nah, hubungan Paragraf diatas mengarah pada permasalahan dalam Paragraf ini. Ada satu bagian yang menjanggal dalam hematku, 'Religion married with Politic' - Aduh, entah bagaimana mulanya bisa tercipta perpaduan macam ini. Menurutku, dan dari kacamataku sendiri: Agama adalah suatu bentuk Kepercayaan, yang hubungannya antara Individu dengan Sang pencipta. Kalau Politik? Wihiiii, teman-temanku disini pasti tau sendiri arti lebih tepatnya seperti apa. Memang benar, dalam suatu Agama tertentu dijelaskan dan juga diajarkan ajaran-ajaran tentang Tata cara serta Etika Berpolitik. Tapi itu pun secara garis besar, bukan merujuk ke setiap sendi-sendi politiknya. Dalam penerapannya, terutama di Negara kita akhir-akhir ini, Agama selalu dijadikan TAMENG/PELINDUNG untuk menutupi BOROK PARA BORJUIS POLITIK! Didebat salah, didiamkan malah jadi masalah. Karena pada dasarnya Agama memang tidak bisa didebat. Hukumnya selalu benar. Orang yang mengatasnamakan-lah yang tidak cukup untuk dikatakan BENAR DAN SEHAT! Entah sehat dalam arti lingkup jasmani maupun rohani. Yang pasti otak mereka sudah sakit. Titik! Menurutku, Ormas/Parpol yang berhasil mengawinkan Agama + Politik dengan porsi, penerapan, serta pemahaman yang baik dan benar hanya Sarekat Islam (SI) pada jamannya.
Teman-temanku, masih banyak sekali yang ingin kuceritakan tentang dongeng-dongeng di Negeriku edisi Juni ini. Dari seputar hingar bingar Pemilu 2014, menguliti para calon Pemimpin dari sudut pandang kanan dan kiri, Black Campaign yang kian marak, atau dari isu-isu tentang sosial-politik-budaya yang akan datang, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi kurasa cukup kusimpan untuk hiburanku nanti di JILID II.
Sekian dulu untuk JILID I. Apa daya stok kretek dan kopiku sudah mulai menipis. Perlu kutekankan sekali lagi, segala kalimat yang kutulis disini berdasar atas kacamataku pribadi. Kiranya terdeteksi kesalahan-kesalahan maupun kengawuran yang tersuguh dengan jelas, mohon dimaklumi. Aku manusia :)
Salam sama rata!
Dari temanmu, di Surabaya.
(AS)
Photo by Tri Joko, Civil Engineer, Photographer, Yokyakarta, Indonesia

Tidak ada komentar :
Posting Komentar