Sekitaran 4 hari terakhir di minggu lalu, jam tidurku menempati titik ter-ngawur sepanjang dunia pertiduran. Entah dikarenakan adanya permasalahan psikologis, turunnya level hormon melatonin, depresi tanpa sebab yang jelas, kelainan kronis, atau bisa juga sebagai reaksi dari perlawanan yang menjumpai pintu kebuntuan atas pengekploitasian SDM secara rutin di tempat kerjaku. Kupikir bukan hanya ditempatku, tapi diseluruh sektor-sektor Industri di abad ini. Panjang umur kau buruh-buruh pabrik! Gelar Pahlawan Keluarga layak disematkan di sudut kiri uniform-mu.
Oh ya, ada sedikit alasan yang perlu kujelaskan dan kutekankan. Walaupun tidak seberapa perlu juga untuk ditekan, bahwa 'susah tidur'-ku kali ini bukan perkara terlibat urusan cinta. Bukan.
Baiklah teman, ku lanjut ceritanya.
Dikarenakan susah tidur, usil-lah sepasang tangan untuk mengumek-umek HP yang pada waktu itu berstatus 'hiburan satu-satunya dikesunyian malam ulalaaaaa'. Buka kunci, usap homescreen, kunci. Buka kunci, usap homesreen, kunci lagi. Begitu seterusnya. Malam itu bodoh betul aku rupanya. Nah, disela-sela pengusapan homescreen untuk yang kesekian kalinya (angka lebih tepatnya tidak sempat ku hitung), kutemui update-an salah seorang teman yang sedang semangat berorasi dengan asyiknya! Dengan sepinya pembaca dan pendengar juga tentunya! hahaha. Ya mau bagaimana lagi, malam sudah terlalu larut. Aku juga tidak seberapa tahu apa motivasinya untuk berorasi ditengah malam. Mungkin dia lelah.
Namanya Siti Asisah. Tapi dia mengajukan saran kepadaku dengan cukup memanggilnya; Firaski Oktavia.
"....................................."
Bagaimana? Bingung? Temanku, pasti pertanyaan ini yang akan muncul dibenakmu; "Kok bisa ya, nyambungnya darimana? Sakti buanget iki!" -- Sama, aku pun demikian. Tapi memang begitulah adanya. Turuti saja. Sekali lagi, mungkin dia lelah.
Iseng-iseng ku amati, ku baca, ku ikuti setiap postingan barunya di salah satu jejaring sosial yang sedang trend dikalangan anak muda sekarang. Woooh, semakin lama semakin menarik rupanya! Jujur, aku merasa sejalan dengan serapan pikirnya maupun kapasitasnya dalam menalar sebuah permasalahan (untuk malam itu saja, tentunya). Ah, Fik. Sayang kita tak seranjang juga, ya.
Tanpa ku rubah bahasa dan gaya penulisannya, hanya ku sunting ulang di bagian tanda baca, agar lebih gurih di mata. Nah, begini isi orasinya:
Iseng-iseng ku amati, ku baca, ku ikuti setiap postingan barunya di salah satu jejaring sosial yang sedang trend dikalangan anak muda sekarang. Woooh, semakin lama semakin menarik rupanya! Jujur, aku merasa sejalan dengan serapan pikirnya maupun kapasitasnya dalam menalar sebuah permasalahan (untuk malam itu saja, tentunya). Ah, Fik. Sayang kita tak seranjang juga, ya.
Tanpa ku rubah bahasa dan gaya penulisannya, hanya ku sunting ulang di bagian tanda baca, agar lebih gurih di mata. Nah, begini isi orasinya:
***
"Indonesia bobrok?", kata ini sudah tidak lagi asing di dengar. Pada dasarnya pengetahuan masyarakat Indonesia dengan Negaranya sendiri itu bergantung pada media. Jika media hanya mengusung berita yang menggambarkan tentang buruknya Indonesia saja, maka masyarakat pun bakal percaya bahwa Negeri ini benar-benar bobrok! Bukankah di balik itu masih banyak prestasi-prestasi yang diraih Indonesia? Yang seharusnya juga menarik jika dijadikan bahan pemberitaan media? Sudah terbukti peran media disini yang buruk!
Namun, saya diberi harapan dengan buku yang saya baca, bahwa Indonesia akan maju di 30 tahun kedepan. Indonesia akan jadi Negara yang dipandang dunia, dilihat oleh mata dunia bahwa Indonesia benar-benar ada! Bukan hanya Bali saja yang dikenal. Tapi atas nama INDONESIA. Negara yang koruptornya tidak akan sempat tersenyum lagi di depan kamera! Bahkan mereka akan menutupi wajahnya dengan triplek, kresek, atau apapun yang bisa menutupi wajah. "Namun, Pemerintah dan Warga Negara-nya harus bersinergi untuk membangun Indonesia" -- #Katabukutersebut
Sudah ada harapan ketika memandang negara cina yang maju -katanya-. Di Indonesia punya Madura, yang juga tidak kalah maju dalam hal Kewirausahaan. Bisa anda lihat sendiri bagaimana beraninya Madura dalam hal bisnis, sama halnya dengan Cina. Tuh kan sudah terlihat satu harapan dari sektor ekonomi, kalau saja masyarakat lain mulai dari Sabang sampai Merauke mau mengikuti cara madura berwirausaha.
***
Bagaimana, temanku? Setuju juga tidak? Mari direnungkan lagi dihadapan spion. :)
Salam sama rata!
(AS)
Ilustrasi: "Wanita Jogja" by Trubus, Medium: Oil on canvas, Size: 108,5cm x 88cm.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar